Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah
Jumat, 20 Februari 2009
Sebelum membuka tas kecil, mengambil buku agenda dan pulpan, aku mengambil ponsel. No Service. Demikian tertera di layar ponsel. Angka-angka digital menunjukkan sekarang pukul 07.56 Wib. (Semoga guru-guru bahasa Indonesia-ku senang!)
Kami berempat sudah di kapal klotok. Hendak kembali ke Pontianak. Aku dan Hamdan di atap, Eman dan Jaka di bawah. Angin cukup kencang. Muka air beriak tenang. Meski matahari tertutup sesusun mega kelabu, cahayanya masih sanggup membuat bayangan sebotol air minuman mineral ukuran 1500ml tampak memanjang. Demikian pula bayangan Hamdan yang duduk di depanku. Juga penumpang-penumpang lain. Sekelompok pemuda merintangi waktu dengan bermain gaplek. Ada beberapa penumpang yang duduk-duduk sendiri. Melamun menatap kejauhan. Barangkali menyusun rencana-rancana. Beberapa penumpang lain berdiri, berbincang, seraya saksama menatap arah utara.
Muara sungai Sepuk Laut sudah tak terlihat. Kiri-kanan sungai (atau selat?) hijau oleh barisan rapi gerumbul nipah. Sesekali terselip bakau. Angin dari haluan membuat kepalaku dingin. Aku menarik nafas seraya mengusap ubun-ubun.
“Ubun-ubunmu masih lembut, Nak,” kalimat itu terngiang begitu saja dalam sukma. Aku bengong. Dari siapa aku pernah mendengarnya? Kapan? Bagaimana peristiwanya kalimat itu bisa terekam dan sekarang diputar ulang? Untukku-kah? Mmmhhh...aku menggeleng tak mengerti. Kualihkan pikiranku pada sosok khas yang baru datan. Eman meloncat dari haluan. Dengan sarung kamera di pinggang kanannya, ia tempak gagah (atau menggagah-gagahkan diri? Menggagahi diri sendiri?)
“Tadi ngobrol di bawah, dengan Pak Sekdes,” ujar Eman. Aku manggut. Tadi kulihat Pak Sekdes memang naik ke klotok dan sempat aku memberi tabik hangat.
Tiba-tiba aku teringat tadi malam. Bakda Isya, kami bertiga, zonder Jaka, berangkat ke rumah Pak Ismail. Di antara bincang-bincang, rupanya Pak Ismail memiliki rumah di Pontianak.
“Adek nie tinggal di mane di Pontianak?”
“Sebenarnye saye nie, kalau di Pontianak, nomaden Pak. Pindah-pindah. Tidok di rumah-rumah kawan. Tapi di Pontianak, secare resmi saye tinggal di tempat Abang saye.”
“Di mane tu?”
“Jeruju.”
“Gang?”
Aku menjawab nama gang tempat Abangku berdomisisili. Tiba-tiba raut wajah Pak Kades yang simpatik itu, sumringah.
“Jadi Abangmu yang pakai motor besak tu, ye?”
Hah? Aku terkaget-kaget.
“Kitak yang dari Sanggau tu, kan?” tanyanya lagi dengan nada yang tak memerlukan jawaban. Tiba-tiba Pak Kades memanggil istrinya. Istrinya keluar dari ruang dalam dengan membawa talam berisikan beberapa teh hangat.
“Kau kenal ndak ngan orang nie?” tanya Pak Kades pada istrinya seraya mengarahkan pandangannya padaku. Bu Kades mengernyitkan dahi. Mengingat-ingat. Tapi tak menemukan sesuatu. Aku membantu dengan menyebut beberapa detail mengenai Abangku, kakak ipar dan si ponakan. Barulah Bu Kades mengangguk-angguk.
***
Kami diarahkan Pak Kades ke rumah Sekdes.
“Sekitar satu kilo dari sini. Setelah pe-el-en,” ujar seorang pemuda di teras rumah Pak Kades. Kami pun kemudian bergerak ke hulu. Siang saja harus berhati-hati karena kami belum terbiasa dengan jalan gertak, apalagi malam? Jadi kami bergerak tak terlalu cepat. Sembari menyapa penduduk, mohon permisi lewat dan berbagai ungkapan ketimuran lainnya, kami selalu diarahkan ke hulu, pokoknye setelah pe-el-en.
Sampai kami berpapasan dengan dua penduduk. Kami jelaskan sedang menuju rumah Pak Agus, Sekdes Sepuk Laut. Ternyata orang yang kami tanya justru Pak Agus yang kami cari. Sambil jalan ke rumahnya kusampaikan preview maksud kedatangan kami. Pembicaraan dilanjutkan dengan lebih hangat di rumahnya.
Pak Sekdes Sepuk Laut masih muda. Sama atau malah lebih muda dariku. Energik. Belum menikah. Namun yang pertama dan terutama sekali, Pak Sekdes antusias dengan maksud kedatangan kami. Setelah data-data umum diperoleh (karena kami pra survey), kami undur diri.
***
Angin masih bertiup kencang. Kabut tipis tampak di semua arah. Mungkin akan kemarau. Aku tersentak. Aku juga punya kemarau di hatiku. Aku hentikan menulis. Memikirkan dengan saksama kecamuk diri.
***
Selanjutnya......
Amrin Zuraidi Rawansyah
Aku ingin pergi seperti yang lain, meskipun disebut: "Maling," sekalipun dicerca: "Anjingggg...!"
21/02/09
Perjalanan ke Sepuk Laut 3
Diposkan oleh amrin di 12:07 0 komentar Link ke posting ini
Label: ARTIKEL
Perjalanan ke Sepuk Laut 2
Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah
“Wah, maaf...jika kami mengganggu urusan negara,” ujarku saat di depan pintu rumah Pak Ismail. Seseorang dengan wajah yang menyiratkan kerasnya hati, tampak serius berbincang dengan Pak Kades. Di atas meja tampak beberapa berkas. Dari informasi warga, kami baru tahu ternyata Pak Kades sesungguhnya juga baru datang dari Pontianak, menumpang klotok yang sama dengan kami. Seingatku, orang berwajah keras itu pun teman seperjalanan. Aku mengingatnya, bukan cuma dikarenakan wajahnya yang keras tegas, tapi juga karena ia mengenakan jaket yang kurang lebih sama denganku. Juga sama mengenakan pin keemasan. Jika, aku memakai pin Burung Garuda Pancasila demi menghormati salah seorang Putra Terbaik Kalbar -- Sultan Hamid II yang merancang Lambang Negara, namun kemudian terdepak oleh konstelasi politik pusat --maka aku tak dapat melihat dengan jelas pin yang ia kenakan. Entah kenapa, saat kami bertiga masuk, pin itu pun tampak seolah ditutupinya.
Setelah berbasa-basi, kami mengutarakan maksud kedatangan. Singkat cerita, orang nomor satu di Sepuk Laut menyambut baik kedatangan dan maksud kami. Mengingat target realistis yang hanya silaturahmi dan membuat janji pertemuan bakda isya malam nanti, maka kami pun segera mohon diri.
Meski tak lama, beberapa informasi penting kami dapatkan. Misalnya, sebuah PTS di Pontianak telah mengirim surat pada Camat dan memerlukan data penduduk dari setiap desa. Belum jelas apakah programnya akan sama dengan kami. Nanti kami akan gali informasi lebih dalam lagi.
Dari rumah Pak Ismail, kami kembali ke arah Pospol/Kamla. Sebelum pasar, kami tercenung melihat sebuah poster caleg. Orang berwajah keras yang kami temui tadi, ternyata caleg dari sebuah partai baru. Partai yang lumayan banyak memasang umbul-umbul di sepanjan jalan. Sebelum sampai pasar (tempat kami singgah pertama kali), kami sempat ambil pict di plang nama kantor desa. Sampai tikungan gertak, di mana terdapat bangunan Pospol/Kamla dan bangunan Babinsa, kami bertemu sesorang yang saat di klotok tadi kami ketahui merupakan kawan lama Jaka. Akhirnya, dengan diantar orang itu, kami menuju rumah keluarga Jaka, yang kemudian kami ketahui dipanggil dengan nama Mak Long.
Saat suasana mulai gelap, aku mandi dengan meminjam kain basahan keluarga Jaka. Setelah aku, Jaka dan Eman mandi bareng.
“Man, tustel di mane kau taro’?”
“Dalam tas, Bang-e...” jawab Eman sambil mulai mengguyur badannya dengan air sungai. Byurrrr....Ya, sebelumnya pun aku juga mandi dengan menggunakan gayung. Ingin berenang, air sungai sedang cetek.
“Boleh Abang ambil, ndak, Man?”
“Sile, Bang-e...”
Byurrrr....
“Ade ndak barang-barang haram di tas kau nie, Man?”
“Tadaklah, Bang-e’”
Byurrrr...
Aku mengajak Jaka mengambil tustel Ben-Q, yang sesungguhnya merupakan pinjaman dari Pak Hendra, salah satu dosen di kampus. Meski keheranan, Jaka ikut juga dengan kerjaku. Setelah menekan tombol on pada tustel, belalai fokus tustel membuka diri. Kubisikkan sesuatu pada Jaka. Jaka mengangguk penuh semangat.
“Cammane nyetel kalau nak ngambek gambar malam, Man?” tanyaku serius sambil mendekati tekape. Mereka berdua pun serius mandi. Belum mengendus rencana muliaku.
Eman menjelaskan prosedur.
Byurrr....
Aku mendekat....
Byurrr...
Lebih dekat....
Byurrrrr....
dekat.....
Byurrrr....
dan....
Klik!!!
Kilatan blitz bagai petir membungkam kesadaran mereka. Mereka gaduh. Minta pict dihapus. Tapi...setelah kuambil beberapa pict lagi, mereka mulai terbiasa. Lantas kujelaskan rencana muliaku.
“Beginek Man, juga’ kau Ndan. Abang punye niat mulie. Abang benar-benar mengharapkan kitek beduak maok memenohinye. Abang ndak banyak pintak dengan kitak kan selamak nie, kan? Jadi, semoge, hati kitak beduak tegerak memenohi niat mulie Abang. Cammane? Tulonglah....same siape lagik Abang mengharapkan bantuan. Ndak mungken same Pak Mude Obama. Sebab, Pak Mude tu sedang sibuk biken ladang di tanah Palestin,” ujarku dengan muka memelas, seolah orang yang telah tiga hari berturut tak makan di restoran.
Mereka mengangguk. Lembut. Menenangakan.
“Makaseh yang sebesak-besaknye Abang sampaikan buwat kitak beduak yang telah tesentoh hatinye membela orang-orang yang memerlukan bantuan. Orang-orang semacam kitak nielah yang harosnye jadi pemimpin bangse Borneo. Bukan macam pemimpin-pemimpin yang ade selamak nie, yang mengidap saket parah, yakni suke lupa ingatan. Mereke-mereke tu baru ingat ngan rakyetnye setiap limak taon sekali.”
“Betol, Bang,” sambut Eman dengan memposisikan gagang gayung sebagai microphone.
“Dan ketahuilah wahai anak-anak mude, calon penerus pemimpin bangse besar Borneo, adepun niat mulie Abang adalah.... nantik, kalau dah sampai di Pontianak, poto kitak beduak nie akan Abang cetak besak-besak. Kalau perlu sebesak baliho caleg kaye raye. Akan kite tarok di gedong UKM. Dengan tulesan besak di bawah gambar kitak: DUA PENGANTIN BARU SEDANG MANDI WAJIB...”
***
Selanjutnya......
Diposkan oleh amrin di 11:56 0 komentar Link ke posting ini
Label: ARTIKEL
20/02/09
Perjalanan ke Sepuk Laut
Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah
Kamis, 19.02.09
Steigher Sungai Kakap. Aku, Eman, Hamdan dan Jaka sudah berada di dalam kapal klotok. Beberapa penumpang, termasuk Jaka, tampak lelap.
“Jam tiga kurang dua puluh menit,” jawab Eman, saat kutanyakan waktu. Eman tersenyum, membanggakan jam tangannya, sekaligus memamerkan senyumnya yang menawan.
Hamdan langsung menanggapi. Dulu, ketika masih SMA, ia dan kawan-kawan sekelasnya menjawab: “jam sepuluh kurang delapan menit.”
“Berarti min dua!” kata guru bahasa Indonesia mereka.
Semilir angin menerobos lewat pintu dan jendela kapal klotok dengan leluasa. Menyegarkan. Soalnya, matahari awal kemarau, di luar sana, sedang melotot tajam. Setelah memperhatikan penumpang yang berjumlah sekitar duapuluhan, kuarahkan pandangan ke luar.
Sebuah kapal klotok, berukuran sedikit lebih kecil, dengan kap bercat hijau daun, yang berada di samping klotok ini, bergoyang pelan. Air sungai kecoklatan, yang membawa lumpur dan jasad renik, berombak kecil. Beberapa klotok lain, bersandar di steigher seberang. Rumah-rumah, beratap daun, seng, terdiam seperti menunggu nasib. Pohon-pohon pisang, kelapa, menari-nari…
Grmhhhh…!!!.. Grmhhhh…!!!.. Grmhhhhhhhh…!!!..
Aku dan Hamdan terperanjat. Kami yang sedang ngobrol tentang kemungkinan Latihan Alam KSJL dan Diksar KSR, terpaksa memutus pembicaraan. Kemudian mengurut dada. Menoleh ke sekeliling. Kemudian saling pandang. Lantas sama-sama tersenyum. Soalnya, dari semua penumpang kapal, hanya kami berdua yang terkaget-kaget saat engine klotok dihidupkan secara otomat oleh driver di balik kemudi.
Saat kapal hendak bertolak, kami mencari-cari sosok Eman. Tadi ia kami sarankan mengambil pict dari arah steigher. Dengan pict-pict tersebut, kami berharap akan memudahkan pelaporan tentang perjalanan survey pada Panitia Bina Desa.
Hamdan menduga Eman berada di atas atap klotok. Aku menduga lain, jangan-jangan Eman telah menjadi bahan bakar engine. Kami bergerak ke atas atap klotok. Benar dugaan Hamdan. Bak fotografer National Geographic, Eman membidikkan kamera digital Ben-Q kemana-mana. Terbersit dalam benakku, jangan-jangan bukan mengambil pict untuk laporan tapi justru mengambil pict gadis-gadis yang banyak berdiri di steigher. Kita buktikan nanti!
Setelah sempat merunduk tatkala klotok melewati jembatan Kakap, sesi foto-foto dilanjutkan. Sekali ini, kami yang memang tidak berbakat jadi foto model berusaha tampil dengan eksyen terbaik. Tentu dengan style berbeda. Tentu dengan tujuan berbeda. Jika Hamdan terus terang mengatakan foto-foto ini nantinya akan ia masukkan ke FS-nya, maka aku berencana untuk Blog-ku. Eman? Entahlah. Mungkin untuk dibawanya ke dukun supaya mendapatkan ajian pengasihan.
Klotok yang kami tumpangi perlahan meninggalkan Sungai Kakap. Membelah muara. Melewati beberapa Ambai dan Rompong yang sunyi, melukiskan perjuangan manusia mengatasi hidup. Pada awak kapal yang masih belia, Husin, kutanyakan tentang cara kerja masing-masing alat penangkap ikan tersebut. Saat menjelaskan Ambai, yang terbayang olehku saat jaring diangkat, bukanlah udang-udang segar, melainkan Eman yang sedang mengenakan celana boxer bajakan. Juga saat menjelaskan Rompong, bukan udang atau ikan yang berenang diarahkan susunan pagar, lagi-lagi Eman yang tergambar dalam benakku sedang berenang memakai google, memamerkan senyum khasnya yang menawan seraya melambaikan tangan, mengisyaratkan tanda minta di foto. (Duh, maafkan aku, Eman, atas bayangan-bayangan “indah” ini…)
Masih di Kamis, 19.02.09.
Aku, Eman dan Hamdan sedang duduk di ruang tamu rumah Mak Long-nya Jaka. Jaka, dalam perjalan ini menjadi guide bagi kami. Sekarang ia sedang temu kangen dengan sanak keluarganya di rumah-rumah sekitar sini. Ada empat gelas kopi. Ada rokok mild BI. Ada perasaan masih berada di kapal klotok. Terasa masih ada angin kencang menampar-nampar muka. Deru mesin masih terngiang di membran telinga. Demikian pula dengan getaran mesin dan ayunan badan klotok serasa masih membuntuti indera.
Sampai juga ke Sepuk Laut, pikirku. Beberapa pekan lalu, saat berbincang dengan Bang Harizan di kantin Wapres Taman Budaya, kami sempat membicarakan perkara asal-usul nama sebuah daerah. Termasuk membicarakan nama Sepuk Laut. Dari dulu aku sudah mendengar nama ini. Kuat sangkaanku, kata “Sepok” identik dengan pemahaman tentang fenomena manusia yang baru tahu tentang sesuatu. Saat berbincang dengan Bang Harizan, baru aku tahu, aku salah. Kata “Sepok” merujuk pada pengertian kondisi tanah yang khas pada daerah pesisir. Aku juga baru tahu, saat tadi melewati kantor desa, penulisan nama desa bukan menggunakan huruf “O”, tetapi “U”, sehingga yang benar adalah “Sepuk Laut”.
Sambil membicarakan tentang kesan-kesan pertama saat tiba di sini, aku teruskan menulis. (Tapi, aouw…! Kopi dalam gelasku sudah habis!)
Tadi, kapal klotok memasuki muara Sungai Sepok Laut, ketika formasi jarum di jam tangan Eman menunjuk angka pukul lima kurang belasan menit. (Duh, maafkan aku guru-guru bahasa Indonesia-ku…). Hal pertama yang menarik minatku adalah kesan muaranya yang seolah menyembunyikan sesuatu energi besar. Malamnya aku baru tahu, menurut penuturan Pak Agustiansyah, Sekdes, Desa Sepok Laut memang pernah di teliti oleh sebuah perguruan tinggi dari Jawa (sana) untuk mengetahui kandungan gas bumi. Sepok Laut, diam-diam menyimpan potensi gas metana yang luar biasa. Hal kedua adalah bangunan Pekong yang tepat terletak di muara. Seolah menjadi benteng sekaligus bangunan yang simpatik mengucapkan kalimat “Selamat Datang”. Berarti di sini banyak orang Tionghoa, pikirku.
Dugaanku tak terlalu salah. Setelah melewati bangunan Kamla, klotok merapat pada sebuah bangunan yang kuduga merupakan tempat bongkar muat kapal-kapal nelayan. Jaka, mengisyaratkan untuk naik. Eman sibuk foto-foto. Kalau tak diingatkan, mungkin ia akan terus saja jepret sana jepret sini. Kami, bersama beberapa penumpang lain, melompat dari atap klotok ke atap kapal nelayan. Setelah melewati tiga kapal nelayan, kami bak pemanjat dinding profesional, naik menuju bagian panggung tempat bongkar muat ikan. Maklum, memang tidak ada tangga. Apalagi kondisi sungai sedang pasang surut. Dengan nafas yang lumayan terengah (maklum jarang olah raga) kami beradaptasi dengan daratan. Eman sesekali tampak oleng.
Kapal klotok, yang didalamnya masih banyak penumpang, meneruskan perjalanan ke bagian hulu sungai. Kami bergerak menuju bangunan Pospol dan Kamla. Melapor diri dan maksud kedatangan. Kemudian, sementara Jaka menuju rumah keluarganya, kami mencari warkop untuk sekadar re-charge. Eman dan Hamdan yang memang bukan “kaki” warkop minum haus.
“Dari kelas tige esde, warkop memang dah jadi kantor Abang,” jelasku pada Hamdan.
“Kalau Abang kite nie, Ndan, kopi pancong pon bise tahan duak tige jam,” imbuh Eman bak para pakar yang sering berdebat di televisi.
Mengingat waktu, kami bertiga memutuskan pergi ke rumah Kades. Maksudnya hanya melapor diri, silaturahmi dan membuat janji pertemuan bakda Isya malam nanti. Rumah Pak Kades mudah di temukan.
“Setelah jembatan, ada toko bangunan. Nah, setelah itulah rumah Pak Ismail,” terang seorang bapak-bapak. “Ingat, ya, rumah Pak Ismail sebalah kanan,” lanjut bapak-bapak itu lagi. Entah kenapa bapak-bapak itu harus memberikan tambahan penjelasan. Padahal telah di ulangnya berkali-kali. Mungkin niat baiknya agar kami tidak lupa. Tapi aku curiga, beliau terpaksa menjelaskan ulang lantaran melihat Eman yang masih kebingungan mana timur mana barat, mana utara mana selatan.
Jalan di Sepok Laut rupanya rupanya didominasi gertak (jembatan kayu). Kami bertiga berjalan dengan hati-hati. Pada banyak bagian kondisi gertak memang bagus. Bahkan bisa digunakan sebagai panggung dangdutan Kak Oma. Tapi banyak juga bagian gertak yang memperihatinkan. Harus dilewati dengan hati-hati jika tidak ingin tercebur.
Aku sependapat dengan ungkapan Pak Sekdes, Agustiansyah, saat kami bertamu malam harinya: “Sepok Laut selama ini di anak tirikan.”
***
Selanjutnya......
Diposkan oleh amrin di 20:16 0 komentar Link ke posting ini
Label: ARTIKEL
