Mi, aku yang biasa kau panggil Pi, ingin mengenangmu dalam banyak sisi. Tapi tak bisa.
Hari itu pertengahan Desember 2011. Kami rombongan suatu kegiatan pendidikan, baru sampai di salah satu hotel di Singkawang. Cuaca berangin dan basah. Setelah mengirim sandek pada keluarga, kukirim sandek padamu.
"Di rumah sakit," demikian sandek balasan darimu. Saat kutanya lagi tentang siapa yang sakit, sakit apa dan di rumah sakit mana, tak ada balasan. Sandekku seakan terkirim ke angkasa tanpa batas. Aku tak berpikir aneh. Sebab, saat kukunjungi laman beranda fb-mu, hanya mengindikasikan jarang diperbarui si pemilik. Sibuk barangkali. Aku pun lanjut mengikuti agenda pelatihan.
Padahal aku ingin sekali bertemu keluargamu. Berkenalan dengan suamimu, yang akrab disapa Bung Topas, serta buah hati kalian, Alif. Kemudian bersama keluarga kecilmu menyusuri eksotika Singkawang. Jazirah yang dengan cantik kau lukiskan dalam bait-bait puisimu. Antara tahun 1999 dam 2000, aku pernah khusyuk dengan Singkawang, bersama tim Sanggar Bhinneka saat mementaskan Sam Pek Eng Tay (Naskah Nano Riantiarno, Sutradara Alm. Lukman Ikhsan Ellong). Jadi, aku kangen pada banyak hal. Mulai dari rapinya jejalan raya, landmark, sampai pada keramahan warganya. Ohya, jangan bilang siapa-siapa. Aku belum pernah ke kawasan Sinka Island. Aku ingin lihat pulau terkecil sedunia itu. Aku ingin ajak kalian ke situ.
Turisnya satu, guide-nya tiga. Kan keren itu? Lantas aku pengen difoto layaknya pertapa agung di pulau terkecil itu. Sayangnya agenda pelatihan rapat-padat. Aku hanya bisa meluangkan waktu sejenak ke pasar Singkawang. Melanggar pantangan dokter, menikmati kopi thiam.
Pelatihan empat hari membuat otak dan batin "melumpik" (bhs. Melayu Senganan Sanggau untuk air yang meluap dari batas penampungan). Atas nama agenda kegiatan, kami langsung pulang ke hulu. Kukabarkan kepulanganku. Lagi. Sandekku terkirim ke angkasa luas.
Awal Januari 2012. Baru beberapa hari melewatkan malam yang dipenuhi suara terompet Naga Air dan tarian pijar kembang api. Ini status FB-ku pada malam itu:
"Aku ingin tidur. Karena besok akan berangkat jauh.Aku bersiap menyudahi daring malam ini. Saat refresh beranda FB, status
adikku, Dian Puspita Sari, mengagetkanku: Tentang penyair perempuan
dari Singkawang yang lebih dulu "tidur"...yang lebih dulu "berangkat
jauh"... yang lebih dulu "menyudahi daring-nya" bersama kita...(05.01.12, pukul 23.48 WIB"
***
Mi, aku yang biasa kau panggil Pi, ingin mengenangmu dalam banyak hal. Tapi tak bisa.
Pertengahan dekade pertama dari alaf millenium. Seorang sahabat, Hatta, sedang merintis sebuah galeri seni di kawasan Sumur Bor, Pontianak. Seorang sahabat yang lain, Pay Jarot Sujarwo (PJS), berjenang Matahari Khatulistiwa, dengan semangat meneleponku.
"Rin. Kau di galeri Ata, kan? Jangan kemana-mana, ya? Aku bawa kawan. Dari Singkawang. Perempuan. Perempuan luar biasa."
Kutunggu di galeri Hatta sampai sore. Sampai senja, tepatnya. Barangkali mereka ada kendala, kupikir. Aku pun memutuskan untuk pulang. Tak jauh meninggalkan galeri Hatta, aku berpapasan dengan PJS. Ia membonceng seorang perempuan. Siapa dia?
***
Mi, aku yang biasa kau panggil Pi, ingin mengenangmu dalam banyak hal. Tapi tak bisa.
Hanya sekali itu saja pertemuan kita. Sepintas kilas. Sonder sapa.
Kita akhirnya bertemu. Tapi di sesusun aksara sandek dan renyah suara di telepon. Juga di beranda, bilik chat dan inbox jejaring sosial. Aku masih ingat kritikmu terhadap buku Wanita Penjaga Api.
"Itu salah cetak...atau memang sengaja bikin pembaca bingung?"
"Yang pertama."
"Kenapa tak dibetulkan? Pusing tahu membacanya..."
Kau juga lugas dan tegas, tapi lembut saat kita "berkelahi" soal puisi. Di antaranya: "Aihhh, Pi. Maaf, idiom yang Pi gunakan udah lazim. Pasaran. Masa' Pi lupa dengan tugas kita sebagai Pejuang Kata-kata?"
Tapi yang paling "panas" adalah di kotak komentar catatan FB. Tepatnya di puisi PULAU (http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150198555161491)
Kita berdebat seru soal EYD. Sampai akhirnya status FB-mu membuat uluhatiku beku. Kuputuskan ber-hibernasi. Saat ada beberapa kerabat FB bertanya soal hibernasi, aku hanya bilang ingin rehat sejenak. Padahal sebenarnya, kutunggau kau bertanya, Mi. Saat yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Kuceritakan soal beku hati. Tapi kau malah tertawa... "Aihhh, Pi. Status itu bukan untuk Pi. Tapi untuk seseorang (menyebutkan nama pulau) yang baru punya satu buku, tapi tergila-gila minta dipanggil penyair."
Haaaa?... Gedubraaakkk...
***
Mi, aku yang biasa kau panggil Pi, ingin mengenangmu dalam banyak hal. Tapi tak bisa.
Saat kau hubungi soal launching buku MIMPI SANG DARE, aku gembiara bukan main. Tapi juga kukatakan: "Mi, Pi tersinggung berat."
Tentu saja aku tersinggung. Pertama, buku itu diberi kata pengantar oleh salah seorang akademisi sekaligus sastrawan Indonesia, Maman. S. Mahayana. Kedua, tempat launching-nya bukan main-main, PDS HB. Jassin, Jakarta. Bandingkan dengan "buku" pertamaku, Kumpulan Sajak Lelatu. Berupa fotokopian, tanpa kata pengantar, serta hanya di-"launching" dengan malu-malu di meja Wapress Taman Budaya Kalimantan Barat.
Kau iyakan ketika kutanya apakah akan bertemu langsung dengan Pak Maman. S. Mahayana.
"Mi, tolong sampaikan salam Pi untuk beliau."
"Baik, Pi. Pasti Mi sampaikan. Tapi... kok ngarepdotkomlah kesannye Pi kali nie. Ade ape, Pi?"
"Beliau termasuk salah satu tokoh yang mbuat Pi memileh jadi penulis dan jadi sorang guru. Ohye. Bise ndak titep oleh-oleh untok beliau? Plis. Misalnye, cinderamata Tugu Khatulistiwa... atau makanan dari Aloe Vera? Eh, kire-kire... beliau suke ape, ye?"
"Liang Teh." Saat menjawab ini, kurasa intonasimu berubah.
"Nah, bise bawa' satu untok beliau? Nanti' Pi ganti ongkosnye..."
Diam sejenak.
"Gini, Pi. Sebenarnye Mi dah siapkan Liang Teh untuk beliau..."
"Waduhhh... jadi?"
Diam lagi.
Setelah bertimbang pada banyak hal: "Gini' ja'lah. Liang Teh nie atas name Pi."
"Lho? Nanti' Mi cammane?"
"Tenang, Pi. Mi maseh ade oleh-oleh laen untok beliau."
Demikianlah KEBENARANNYA. Ia berbesar hati, merelakan oleh-olehnya sebagai oleh-oleh dariku. Jadi, ini sekaligus konfirmasi bahwasanya oleh-oleh Liang Teh itu, bukan semata dariku. Tepatnya dari kami berdua.
***
Mi, aku yang kau panggil Pi, ingin mengenangmu dalam banyak sisi. Tapi tak bisa. Seluruh pengetahuanku hanya berkisar pada satu kata, meskipun tak pernah kau minta: "PENYAIR".
BUMI BATU BERTULIS, 10.01.2012
28/01/12
22/06/11
REMUDANG-MERUDANG
;L
Kugapai batang,
kulilit dahan,
...kujepit langit biru:
"seperti engkau terlunta, cari bidari, yg takzim
menyengat mimpi bungas bujangmu."
Kugapai batang,
kulilit dahan,
...kujepit langit biru:
"seperti engkau terlunta, cari bidari, yg takzim
menyengat mimpi bungas bujangmu."
18/06/11
JANG MOMA (Bagian 2)
Indobarometer
bikin survei yang bikin banyak orang geleng-geleng kepala. Termasuk Jang Moma.
"Margin error dan
sampelnya..." jawab JM saat kutanyakan kenapa ia menggeleng.
"Tanggung. Kenapa tak sekalian dari esbeye, tarik mundur sampai ke era
kolonialisme? Atau sampai era prasejarah sekalian?!"
"Lha? Kalau sampai sejauh itu, siapa yang jadi sumber datanya, Jang?"
JM diam. Aku senang bukan main. Bisa juga akhirnya aku membuatnya bungkam.
JM senyum: "Kuburan."
(17.05.11)
"Stephen
Hawking nie benar-benar pening,"
ujarku pada Jang Moma yang baru saja mengangkat jemuran. Siang ini, hujan turun
tiba-tiba.
"Mangnye ngape ngan kawan lama'
aku,tu?"
"Ha? Kawan lama' kau, Jang?"
"Yelah. Kawan aku maen guli maen
gasing dolo'... Ha? Ngape kau bilang die pening?"
"Cammane ndak pening? Masa' die
bilang kalau surge tu dongeng jak?"
Jang Moma tertawa terbahak-bahak.
"Ngape, Jang?"
"Mungken die pening nengok banyak
orang beperang bawa’-bawa’ name agama..."
(17.05.11)
Sandek masuk
pkl.21.21 Wib: "Ph4q,,,k0ch bK1N 5p4ndUq p3Rph15h4nt cHo3m4ch b3rdUach
jh4n9 Mh0m4...??? knP4 nD4q bW An4q b034ch,,,???"
Aku tunjukkan pada Jang Moma. Jang Moma minta izin membalas sandek itu. Setelah
ku iyakan, jarinya lincah menari pada papan tombol ponsel: "s3bh4b pH4q
4mRh1nh b03khanT Bh4p4q b034cH..."
(Senin, 16.05.11,
pukul 00:30 Wib)
"Don't-don't..."
"Ngape kau, Jang?"
Jang Moma menoleh. Kaget juga aku. Ada ponsel canggil di tangannya. JM punya
ponsel? Hei?! Bukankah itu ponsel anak tetangga sebelah?
"Saye bukan pencuri, ye.."
kata JM, seolah tahu isi kepalaku, "yang
punye hape nie minta’ tolong ngan saye."
"Minta’ tolong ape?”
"Cowoknye sms pakai bahase Inggres.
Jadi, saye cube nakbantu die mbalasnye."
"Teros...? Kau bilang 'don-don' tadi’
tu ape?"
"Jangan-jangan..."
"Haaaahhh?"
(12.05.11, pukul
19:30 Wib)
Hujan kepagian.
Bulan kesiangan.
"Nah, benarkan kataku?"
"Benar apanya, Jang?"
"Cuaca."
"Kenapa?"
"Seperti manusia."
"Atau manusia yg seperti cuaca?"
"He..."
"Kok?"
"Tergantung kacamata & tanda matematika."
"Jang, soal kacamata, okelah. Aku tau kau menyindirku untuk mngganti kacamata
ini.Tapi soal matematika, maksudmu berkenaan dengan Klimatologi?"
"Ah, aku cuma mau bilang, itulah fungsi manusia membuat beberapa variasi
tanda sama dengan."
"?"
(12.05.11, pukul
06:32)
Alek Konslet berhitung:
Besok main bowling, seharian.
Lusa, main bulu tangkis, turnamen.
Tulat, main polo air, memeriahkan hari keagamaan.
Langkat, main bola di Desa Mongko, tarkam.
Empat hari yang menyibukkan.
Ia menoleh pada Jang Moma: "Jang, sesibuk itu,
kapan aku istirahat?"
Jang Moma
mengangguk-angguk. Berat sekali sepertinya ia mendapat pertanyaan dari Alek
Konslet. Matanya sampai terpejam. Khusuk sekali.
Aku dan Alek
Konslet harap-harap cemas menanti advice Jang
Moma.
Alek Konslet
tergerak hatinya memasak air untuk membuat tiga gelas kopi. Sampai air matang,
Jang Moma masih dalam sikap khidmat. Sampai tiga gelas kopi terhidang, masih ia
khidmat. Sampai kusodorkan gelas di depannya dengan harapan hidungnya akan
mengendus aroma minuman kesukaannya itu, masih juga khidmat. Aku dan Alek
Konslet setia menanti. Tak berani bicara. Takut mengusik.
Saat kopi kami
tinggal setengah gelas, barulah tampak ‘tanda-tanda kehidupan” lagi pada Jang Moma. Caping hidungnya bergetar
halus. Helaan nafasnya dalam dan panjang-panjang. Kemudian kelopak matanya
membuka perlahan. Di susul tarikan garis senyumnya yang subversif.
“Lek, empat hari
ini sibuk?”
“Betul, Jang.”
“Kau bingung
kapan istirahat?”
“Iya, Jang.”
“Kau mau tau
saranku, Lek?”
“Mau, Jang.”
“Oke. Saranku: istirahatlah sekarang.”
(11.05.11, pukul
18:46 Wib)
Kau takkan bisa
membeli kenangan.
(Jang Moma)
"Tapi, Jang...aku kan cuma beli pulsa?"
"Oh, aku kira kau berusaha untuk menghubungi 'masa
lalumu' itu."
(11.05.11, pukul 15:12 Wib)
Dua tahun di
sini. Belum juga kuselesaikan NAGA.
Padahal kecamuk ini, galibnya, menjadi energi bagiku menjelajah jazirah kekata,
watak dan lain-lain serta peristiwa-peristiwa...
JM: "Kau cedera dalam pertempuran yg tak perlu."
Aku: "Jadi bagaimana?"
JM: "Berhentilah mengeluh."
Aku: "...?"
(10.05.11, pukul
21:17 Wib)
"Coba kau
tanyakan mereka," kata Jang Moma, "bersediakah foto mereka dijadikan sebagai
foto profil akunmu?"
"Mereka? Teman FB saya? Untuk apa? Nanti mereka mengira saya tak pede dengan
wajah sendiri..."
"Udah. Tanya saja."
Demikianlah sanak saudara dan sohib-sohib FB yang saya cintai. Bagaimana tanggapan
saudara? Bersediakah saudara, jika foto saudara, saya "pinjam" sebagai foto profil?
"Jang...udah saya umumkan."
"Hehe..."
(08.05.11, pukul
19:19 Wib)
JANG MOMA (Bagian 1)
Anak Mami: Jang, udah tau Ibas foto mesra?
Jang Moma: Memangnya kenapa?
AM: Kok orang-orang sampai segitu hebohnya, ya? Padahal cuma foto sama CBL
JM: Memangnya kenapa?
AM: Aku foto mesra, gak ada yg heboh..
JM: Mmgnya kenapa?
AM: Pdhl aku foto sama CLBK.
JM: ?
Jang Moma: Memangnya kenapa?
AM: Kok orang-orang sampai segitu hebohnya, ya? Padahal cuma foto sama CBL
JM: Memangnya kenapa?
AM: Aku foto mesra, gak ada yg heboh..
JM: Mmgnya kenapa?
AM: Pdhl aku foto sama CLBK.
JM: ?
(08.05.11, pukul 15:43)
"Mungkin kau takkan percaya..." ujar Jang Moma, saat kami berangkat mandi tadi pagi. Aku heran. Percaya tidak percaya tentang apa? Sepertinya Jang sedangg dlm 'mode gazebo'.
"Nama mereka, " lanjut Jang, "adalah simbol oksigen."
Wah... makin 'gazebo' nih...
Demikianlah. (Tp sebelumnya, sori-menyori saya pake term 'gazebo',yang mungkin bagi sebagian kawan udah jadul). Sampai sesiang ini baru saya paham, rupanya yang Jang maksud adalah Obama & Osama.
"Nama mereka, " lanjut Jang, "adalah simbol oksigen."
Wah... makin 'gazebo' nih...
Demikianlah. (Tp sebelumnya, sori-menyori saya pake term 'gazebo',yang mungkin bagi sebagian kawan udah jadul). Sampai sesiang ini baru saya paham, rupanya yang Jang maksud adalah Obama & Osama.
(08.05.11, pukul 12:49 Wib)
Jam segini barulah Jang Moma pulang. Belum kuputar anak kunci, dari balik pintu kudengar kata-katanya. Jelas brkenaan dengan pertanyaanku sebelum ia keluar petang tadi, tentang siapa yg "Habil" dan "Kabil" antara Osama & Obama.
"Kawan, sdh kau baca celoteh Michael Moore?"
"Siapa dia?"
"Ampunnn..kau tak tahu?! Ah..jangankan apa celotehnya, tentang Obama, tentang siapa ia sebenarnya pun kau tak tahu... bakar sajalah ijazahmu!"
Busyet. Panas hatiku.
"Kawan, sdh kau baca celoteh Michael Moore?"
"Siapa dia?"
"Ampunnn..kau tak tahu?! Ah..jangankan apa celotehnya, tentang Obama, tentang siapa ia sebenarnya pun kau tak tahu... bakar sajalah ijazahmu!"
Busyet. Panas hatiku.
(07.05.11, pukul 01:38 Wib)
"Osama dan Obama. Siapa yang 'Habil' dan siapa yang "Kabil'?"
Jang Moma diam. Tak mau menjawab pertanyaanku. Namun nafasnya kulihat memberat. Ia bangkit, membalikkan badan, kemudian menuju pintu. Sambil mengenakan sendal, ia menoleh padaku.
"Kau pakai kacamata, kan?"
Aku mengangguk.
"Ganti kacamatamu."
Jang Moma diam. Tak mau menjawab pertanyaanku. Namun nafasnya kulihat memberat. Ia bangkit, membalikkan badan, kemudian menuju pintu. Sambil mengenakan sendal, ia menoleh padaku.
"Kau pakai kacamata, kan?"
Aku mengangguk.
"Ganti kacamatamu."
(06.05.11, pukul 23:00 Wib)
"Jang," ujarku seraya menatap layar monitor, "mau pakai nama e-mail yg bagaimana?"
Jang Moma berteriak lantang: "komisi delapan tiga enam nol et yahu dot kom...!!!"
Jang Moma berteriak lantang: "komisi delapan tiga enam nol et yahu dot kom...!!!"
(05.05.11, pukul 16:04 Wib)
Gara-gara Jang Moma aku terpaksa bangun sepagi ini. Dengan heroik ia mengguncang-guncang bahuku. Suaranya penuh patriotisme: "Kawan, kau harus mendukung gedung dpr baru itu."
"Kok?!"
"Kok?!"
Aku curiga, jangan-jangan ia terinfeksi virus yg diderita banyak orang-orang penting negeri ini, yakni virus mengkhianati cita-citanyanya sendiri.
"Harus, kawan. Harus. Sebab, meskipun tetap biaya tinggi, gedung baru itu dilengkapi ruangan khusus untuk anggotanya cuci otak."
"Harus, kawan. Harus. Sebab, meskipun tetap biaya tinggi, gedung baru itu dilengkapi ruangan khusus untuk anggotanya cuci otak."
(05.05.11, pukul 05:35 Wib)
Pulang mandi, anak tetangga teriak-teriak padaku mengabarkan bahwa Jang Moma ada di tipi: menghadiri pernikahan Will dan Kate.
(29.04.11, pukul 16:46 Wib)
Meskipun kalah (dengan angka tipis) aku tetap BANGGA dgn PERJUANGAN Daud "Cino" Yordan.
Sprtinya akan banyak pembahasan dengan Jang Moma nieh. Tapi... eh... mana dia?
Sprtinya akan banyak pembahasan dengan Jang Moma nieh. Tapi... eh... mana dia?
(17.04.11, pukul 23:48 Wib)
Sejak bakda Isya, Jang Moma sudah ternganga di depan tipi tetangga. Bahkan ia ringan tangan mengeluarkan isi dompetnya membantu tuan rumah membeli bensin untuk mengidupkan genset.
"Iklan terus," celoteh seseorang disampingnya.
"Ndak apa-apa," jawab JM, ini tanda negara ini kapitalis, bukan sosialis.
"Komentar terus," keluh yang lain.
"Ndak apa-apa. Kita kan memang juara dunianya... juara dunia komentator."
"PLN mati,"
"Tanda kita di NKRI."
"Iklan terus," celoteh seseorang disampingnya.
"Ndak apa-apa," jawab JM, ini tanda negara ini kapitalis, bukan sosialis.
"Komentar terus," keluh yang lain.
"Ndak apa-apa. Kita kan memang juara dunianya... juara dunia komentator."
"PLN mati,"
"Tanda kita di NKRI."
(17.04.11, pukul 22:16 Wib)
Jang Moma marah besar. Padahal aku cuma bilang bahwa jangan-jangan aparat lengah lantaran lagi Demam Norman.
"Seribu kematian hanya statistik," ujarnya geram smbil menuruni tangga, "satu kematian adalah tragedi."
Aku terkesima. "Mantap kata-katamu, Jang.."
"Aku cuma mengutip, kawan. Itu ujar-ujar filosof terkenal."
"Siapa, Jang?"
Ia menyeringai: "Pe-er utkmu."
"Seribu kematian hanya statistik," ujarnya geram smbil menuruni tangga, "satu kematian adalah tragedi."
Aku terkesima. "Mantap kata-katamu, Jang.."
"Aku cuma mengutip, kawan. Itu ujar-ujar filosof terkenal."
"Siapa, Jang?"
Ia menyeringai: "Pe-er utkmu."
(15.04.11, pukul 19:43 Wib)
Jang Moma selalu punya alasan untuk ke Jakarta. Setelah gagal nonton Kitaro, kali ini ia mengajakku ke ibukota republik dengan alasan menghadiri resepsi pernikahan.
Pernikahan di 1 Mei nanti, tak sembarangan. Mempelainya adalah Super”Gayus”man dan Melinda "supertoge" Dee...
Ad yg mau ikut?
Pernikahan di 1 Mei nanti, tak sembarangan. Mempelainya adalah Super”Gayus”man dan Melinda "supertoge" Dee...
Ad yg mau ikut?
(08.04.11, pukul 13:53 Wib)
Ada partai yang menolak gedung mengangkang itu. Ada yg menerima. Emhh.. padahal, kalau dipikir-pikir, partai-partai yang menerima itu telah melukai rakyat kebanyakan. Nah, apakah mereka akan laku lagi di pemilu 2014 nanti?
"Mereka takkan khawatir," ujar Jang Moma, "sebab mereka tahu, kita adalah bangsa yang 'forgiven' sekaligus 'forgotten'..."
Ssst.. jgn kuat2, Jang...
"Mereka takkan khawatir," ujar Jang Moma, "sebab mereka tahu, kita adalah bangsa yang 'forgiven' sekaligus 'forgotten'..."
Ssst.. jgn kuat2, Jang...
(08.04.11, pukul 00:36 Wib)
Kitaro akn tmpil d Indonesia.
"Berapapun tiketnya, sy harus nonton!" ujar JM antusias. JM mmg br bs tenang klw brdiam dr smbil dngr Orochi atawa Silk Road atw yg lain2 dr Kitaro.
"Kpn Jang brgkt k Jakarta?"
"Hah???!!! Di Jakarta? Kok bkn d lapangan sepak bola desa kita, ya?"
Aku kasihan melihatnya.
...Tb2 ia menggumam: "Iya, ya. Org2 kan taunya Indonesia cm Jakarta?"
Hushhh... sssttt... jangan kuat2, Jang...
"Berapapun tiketnya, sy harus nonton!" ujar JM antusias. JM mmg br bs tenang klw brdiam dr smbil dngr Orochi atawa Silk Road atw yg lain2 dr Kitaro.
"Kpn Jang brgkt k Jakarta?"
"Hah???!!! Di Jakarta? Kok bkn d lapangan sepak bola desa kita, ya?"
Aku kasihan melihatnya.
...Tb2 ia menggumam: "Iya, ya. Org2 kan taunya Indonesia cm Jakarta?"
Hushhh... sssttt... jangan kuat2, Jang...
(07.04.11, pukul 14:14 Wib)
#1. Saat istana wapress hampir tutup, Jang Moma datang. Ia dibonceng seorang pemuda berwajah mirip pesohor yang gemar menjajakan aibnya di infotainment. Keadaan mereka sungguh payah. Bercak lumpur bahkan sampai ke rambut. Sepeda motor mereka, jangan dikata lagi. Nyaris kehilangan cat asli. Tanda bahwa mereka sah melewati jejalan republik, yang mana para wakil rakyatnya gemar belajar etika ke mancanegara serta...
(03.04.11, pukul 02:37 Wib)
#2. ...mengidap sindrom aneh: terobsesi membangun gedung megah mengangkang.
Aku dan JM saling tabik. Sedangkan si pesohor penjual aib itu hanya tersenyum simpatik. Dari lehernya terkilas kemilau unik. Kupikir kalung, ternyata jakunnya bertindik.
"Kapan datang?" tanyaku.
"Sekitar 4 tahun lagilah.." jawab JM sambil mempersilakan dirinya sendiri untuk duduk.
Tak ayal, kursi plastik yg didudukinya kotor.
Aku dan JM saling tabik. Sedangkan si pesohor penjual aib itu hanya tersenyum simpatik. Dari lehernya terkilas kemilau unik. Kupikir kalung, ternyata jakunnya bertindik.
"Kapan datang?" tanyaku.
"Sekitar 4 tahun lagilah.." jawab JM sambil mempersilakan dirinya sendiri untuk duduk.
Tak ayal, kursi plastik yg didudukinya kotor.
(03.04.11, pukul 02:51 Wib)
#3. Aku memesan 3 gelas kopi lagi. Kawan JM sudah bergabung, setelah tadi memarkir sepeda motornya dekat riol. Sambil berhadap-hadapan, JM memperkenalkan kawan barunya yg bernama Hadapi. H.I.
Awalnya kusangka ujung namanya adalah semacam gelar akademis atau nama keluarga. Ternyata merupakan singkatan dari Hidup Ini.
Kami berbincang hangat. Sampailah pada topik tentang: kemana sajakah JM selama ini?
(03.04.11, pukul 3:10 Wib)
Awalnya kusangka ujung namanya adalah semacam gelar akademis atau nama keluarga. Ternyata merupakan singkatan dari Hidup Ini.
Kami berbincang hangat. Sampailah pada topik tentang: kemana sajakah JM selama ini?
(03.04.11, pukul 3:10 Wib)
#4. Dengan senyum khasnya yang subversif, ia menjawab bahwa ia tak kemana-mana selama ini.
"Pak Uteh Tungkal bilang Jang ke Jakarta. Benar?" tanyaku sambil menjangkau sebungkus keronceng keladi.
Jang terperanjat dan berseru: "Bocorrr...!!!"
"Ha? Jadi Pak Uteh benar? Dan Jang tadi bohong? Baguss.."
"Eitt.. Jangan vonis sembarangan. Aku belun jawab apa-apa, kok?"
"Lha? Tadi Jang bilang info bocor?"
"Duhh..sekolahmu..
"Pak Uteh Tungkal bilang Jang ke Jakarta. Benar?" tanyaku sambil menjangkau sebungkus keronceng keladi.
Jang terperanjat dan berseru: "Bocorrr...!!!"
"Ha? Jadi Pak Uteh benar? Dan Jang tadi bohong? Baguss.."
"Eitt.. Jangan vonis sembarangan. Aku belun jawab apa-apa, kok?"
"Lha? Tadi Jang bilang info bocor?"
"Duhh..sekolahmu..
(03.04.11, pukul 03:25 Wib)
#5. ..yg bertahun-tahun itu hanya menjadikanmu sebagai seorang penuduh? Alamakkk.. Dengar baik-baik. Yang bocor itu keronceng di tanganmu."
Haaa???
Benar. Daging umbi keladi, yang dirajang sebesar batang korek api dan diolah sebagai kudapan di tanganku ini, bungkus plastiknya memang bocor. Untuk memastikan, kupatah-patahkan beberapa potongan dari luar pembungkus. Lemau. Domun. Demun. Masuk angin.
"Ya, sudah..tak apa-apa," ujar..
Haaa???
Benar. Daging umbi keladi, yang dirajang sebesar batang korek api dan diolah sebagai kudapan di tanganku ini, bungkus plastiknya memang bocor. Untuk memastikan, kupatah-patahkan beberapa potongan dari luar pembungkus. Lemau. Domun. Demun. Masuk angin.
"Ya, sudah..tak apa-apa," ujar..
(03.04.11, pukul 03:36 Wib)
#6. ..ku seraya menaruh keronceng ke atas meja.
"Intinya, benarkah Jang ke Ibukota negara?"
"Siapa yang bilang?"
"Sudah kubilang tadi, aku tahunya dari Pak Uteh Tungkal."
"Siapa itu? Apakah aku mengenalnya? Dan apakah ia mengenalku? Jangan sembarangan, kawan. Jelang duaribu duabelas dan duaribu limabelas, jangan sembarangan menelan informasi."
"Jang...ada apa dengan tahun-tahun itu?"
"Siapa yang bilang?"
"Sudah kubilang tadi, aku tahunya dari Pak Uteh Tungkal."
"Siapa itu? Apakah aku mengenalnya? Dan apakah ia mengenalku? Jangan sembarangan, kawan. Jelang duaribu duabelas dan duaribu limabelas, jangan sembarangan menelan informasi."
"Jang...ada apa dengan tahun-tahun itu?"
(03.04.11, pukul 03:43 Wib)
Ia membuatku kecewa. Setelah beberapa minggu raib, yang katanya mau ngobrol sama SBY, ia ternyata akan kembali malam ini dengan cara yang biasa-biasa saja. Harusnya, ia kembali dengan surprise luar biasa. Misal, aku buka pintu, tiba-tiba ia sudah ada berdiri, lengkap dengan senyumnya yang kadang subversif itu. Tapi...yaaa... biasa2 saja. Ia pinjam ponsel ponakanku, kirim sandek: "Aku pulang. JM."
(02.04.11, pukul 19:24 Wib)
Akhirnya jejak Jang Moma terendus. Dari Usu Tungkal, yang hari-harinya standby di warkop TERANG BULAN TERANG SEKALI, aku mendapat info berharga: "Jang Moma mau ke Jakarta."
"Plesiran?"
"Bukan.." jawab Usu, sambil memberi kode pada Tauke Amung untuk menambah segelas kopi lagi. Ditambah kode susulan bahwa pembayar kopi yang baru dipesan adalah aku.
"Plesiran?"
"Bukan.." jawab Usu, sambil memberi kode pada Tauke Amung untuk menambah segelas kopi lagi. Ditambah kode susulan bahwa pembayar kopi yang baru dipesan adalah aku.
Baru akan kudekatkan telinga pada tangannya (karena sikap tubuh menegaskan akan berbisik), Usu kembali memberi kode pada tauke. Kali ini kodenya berarti: tak hanya kopi barusan dipesan yang menjadi tanggunganku, tapi semua kopinya dari pagi. Busyet. Udah kayak wakil rakyat, nih? Aku menguatkan hati. Inilah konsekuensi hidup di alaf informasi.
Usu kemudian kembali menatapku. Memposisikan tubuhnya untuk membisikkan sesuatu yang teramat berharga padaku.
Dan inilah informasi yang teramat berharga itu: "Jang mau ketemu esbeye...sst...jangan bilang siapa-siapa."
Aku garuk2 kepala.
Aku garuk2 kepala.
(16.03.11, pukul 15:17 Wib)
REG spasi DICARI spasi JANG spasi MOMA spasi USIA spasi TIDAK-DIKETAHUI kirim ke... ke... ke... kemana, ya?
(15.03.11, pukul 14:22 Wib)
"Mana muka saya???!!!" jerit Jang Moma di depan cermin.
(12.03.11, pukul 19:34 Wib)
"Syukurlah dinda miyabi tidak kenapa-kenapa," ujar Jang Moma berbaring di ruang tamu sambil memeluk guling.
Aku pindah ke ruang tengah.
Aku pindah ke ruang tengah.
Baring.
Berusaha utk tidur siang.
Tp sulit.
Masih memikirkan "hep".
(12.03.11, pukul 14:46 Wib)
Setelah insiden "hep" yg masih belum bisa saya mengerti, Jang Moma mendekatiku.
"Apa yg kau pikirkan?"
Ketika aku hendak menjawab, ia sudah berujar : "Jangan kau pikirkan 'kok bisa, ya, langit endak ada tiangnya'..."
"Apa yg kau pikirkan?"
Ketika aku hendak menjawab, ia sudah berujar : "Jangan kau pikirkan 'kok bisa, ya, langit endak ada tiangnya'..."
(11.03.11, pukul 20:26 Wib)
"Heppp...!!!" jerit Jang Moma saat lampu menyala. Ia yang sedang terbaring di tengah ruang, bergegas bangkit.
Aku tercenung. Hep? Kata apa itu?
Aku tercenung. Hep? Kata apa itu?
(11.03.11, pukul 19:40 Wib)
"Makan, yuk.." ajakku pd Jang Moma.
"Lauk?" tanyanya antusias.
"Telor."
"Sayur?"
"Tumis terung campur irisan sosis, lalap mentimun."
"Ihhh...Terima kasih. Saya endak jd ikut makan. Hiii..."
"Lho? Bukannya menu ini favoritmu, Jang?"
"Favorit? Omong lain jak. Menumu hari ini membuatku seakan MEMAKAN DIRI SENDIRI."
"Lauk?" tanyanya antusias.
"Telor."
"Sayur?"
"Tumis terung campur irisan sosis, lalap mentimun."
"Ihhh...Terima kasih. Saya endak jd ikut makan. Hiii..."
"Lho? Bukannya menu ini favoritmu, Jang?"
"Favorit? Omong lain jak. Menumu hari ini membuatku seakan MEMAKAN DIRI SENDIRI."
(10.03.11, pukul 13:09 Wib)
"Ini berita gembira, Jang Moma. Kembaranku akhirnya manggung di Jakarta."
"Siapa kembaranmu?"
"Justin Bieber..."
"Siapa kembaranmu?"
"Justin Bieber..."
(08.03.11, pukul 18:25 Wib)
03/06/11
CERAMAH CEMARA CEMAS
; Deni Kiswanto
Cemara-cemara, yang dulu setia menyongsong kedatangan para pelancong, kini tak ada lagi, kawan.
Meskipun angin dan aroma pantai ini, tetap saja mengajak (sebenarnya kita enggan), menyelinap ke dalam rongga-rongga peristiwa yang terserak di sepanjang tanjung.
Belum. Belum kujawab tantanganmu untuk berkelahi dengan waktu.
Cemara-cemara, yang dulu setia menyongsong kedatangan para pelancong, kini tak ada lagi, kawan.
Meskipun angin dan aroma pantai ini, tetap saja mengajak (sebenarnya kita enggan), menyelinap ke dalam rongga-rongga peristiwa yang terserak di sepanjang tanjung.
Belum. Belum kujawab tantanganmu untuk berkelahi dengan waktu.
Langgan:
Entri (Atom)


