Sahabat-sahabat lama, dengan air muka yang menggariskan impian kanak-kanak yang belum selesai, bersepakat menggelar sepetak langit siang di meja makan.
Sebuah pesawat terbang domestik nyasar di langit mereka. Air muka-air muka beriak. “Aku dulu ingin jadi pilot…” desis seseorang. “Kalau aku…astronot…” ujar seseorang yang lain. “Aku guru…” sambung seseorang yang lain lagi. Seseorang yang lain pun berkata: “Aku presiden…”
Sementara itu, beberapa orang yang lain, beberapa sahabat lama yang lain, Cuma mendesis-desiskan: “Aku…aku…aku…”
Tapi desisan itu berganti riuh rendah.
Ada yang bilang, tidak mungkin sahabat lamanya akan menjadi pilot. Bukan semata faktor fisik, tapi juga karena pelajaran eksaknya lemah. Yang lainnya lagi bilang, tidak mungkin sahabat lamanya bisa menjadi astronot. Soalnya, teknologi luar angkasa masih dikangkangi negara-negara maju.
Tentang sahabat lama yang ingin menjadi guru, sahabat-sahabat lama yang lian bertanya tentang itikad. Apakah menjadi guru disebabkan panggilan hati, ataukah karena tidak ada pekerjaan lain?
Lantas, tentang yang ingin menjadi presiden, semuanya bersorak. Semuanya. Mereka bertanya dengan gaya investigasi: Apakah kamu laki-laki? Apakah kamu militer? Apakah kamu Islam? Apakah namamu mangandung notonegoro?...MUSTAHIL!!!...Huahaha....
Selepas tertawa sampai keluar air mata dn beberapa sahabat lama kencing dalam celana, mereka bersepakat berdansa. Berdansa di atas meja. Berdansa di sepetak langit siang, lengkap dengan sebuah pesawat terbang domestik yang nyasar.
Juni 2007
08/03/08
06/03/08
BICARA URBAN

Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah
I.
Bagaimana hendak kumulai
diammu saja-sudah debarkan
Bagaimana harus kubuai
tenangmu cukup-hanyut lenakan
II.
Tunas-tunas beton menjalar di pematang
gambutku. Menjadi belukar ketidakpedulian
yang penuh cicit rem cakram, deru mesin
geram, siul klakson dan kerling lampu-
lampu sein nakal
Ada yang terlalai, menyelinap di antara
cabang, mengudap rakus, buah akar
ranum keputusasaan…
III.
Bicara urban pada kota tua:
“Kau sapa-sapa aku dalam cemerlang mercu
dalam igau rambu-rambu…akan kau apung-
apungkan senantiasa aku, di riak-riak dua
sungai muara satu?”
2002
Gambar: http://pemkot.pontianak.go.id/
KITA MENCATAT KEMARAU
Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah
Buat Ce
Saat itulah: saat kubaui mesiu segar
pada anak-anak rambut di tengkukmu
Bibirku menderak; retak, membeling gegar
kutancapkan merata di setiap pori jenjangmu
Kudengar lirihmu memanggil angin:
“Aku mau tidur, kau terus dekap aku, ya?”
Tapi ini kemarau, Ce, udara agak sangit
Sementara kita repot jinakkan dahaga
Halimun turun menirai pandang dari langit
Matahari bundar berkesumba
Kau dengar dengusku menyapa api?
“Indah, ya, barangkali. Kalau hidup berhenti saja di sini...”
26 Agustus 2002
SEPETANG INI
Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah
Sepetang ini, masih ada samar putih
awan rendah mengabut sebisanya. Seperti
serangkum asap tungku
dalam sekali kerjap membeku
Aku di teras loteng, membeku turut
oleh kesertamertaan angin surut
Separuh bulan, separuh bintang
Kulihat wajahmu separuh
berparuh
2002
Sepetang ini, masih ada samar putih
awan rendah mengabut sebisanya. Seperti
serangkum asap tungku
dalam sekali kerjap membeku
Aku di teras loteng, membeku turut
oleh kesertamertaan angin surut
Separuh bulan, separuh bintang
Kulihat wajahmu separuh
berparuh
2002
SOLILOKUI SINER
Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah
Ia memintaku, Siner, membikin sajak
tentangmu, dari pecahan ubin berdaki,
teronggok di balik pintu, dalam lembab
kamar mandi
Tapi, kataku, kau mungkin akan menyesal
Dan ia semakin berisik, Siner
berisik, semakin berisik!
Padahal sudah kubilang jauh-jauh hari
seorang Siner sepertimu bukanlah sejumput
suara yang gampang lenyap dalam udara
udara yang mudah lelah pada cuaca
Dan, kataku, kau pasti akan kecewa
Tapi desahannya semakin bising, Siner,
semakin bising!
Dikiranya mudah, Siner, berperkara denganmu
08.11.02
Ia memintaku, Siner, membikin sajak
tentangmu, dari pecahan ubin berdaki,
teronggok di balik pintu, dalam lembab
kamar mandi
Tapi, kataku, kau mungkin akan menyesal
Dan ia semakin berisik, Siner
berisik, semakin berisik!
Padahal sudah kubilang jauh-jauh hari
seorang Siner sepertimu bukanlah sejumput
suara yang gampang lenyap dalam udara
udara yang mudah lelah pada cuaca
Dan, kataku, kau pasti akan kecewa
Tapi desahannya semakin bising, Siner,
semakin bising!
Dikiranya mudah, Siner, berperkara denganmu
08.11.02
WARUNG KOPI MENGEJA MATA KAKI

Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah
Warung kopi mengeja mata kaki, pada malam siaran langsung liga sepak bola eropa, ketika sendok-sendok berteriak, gelas-gelas berteriak, piring-piring berteriak, meja-meja berteriak, bangku-bangku :berteriak, dinding-dinding berteriak, pintu-pintu berteriak, saat itulah tangisan beribu ibu mendesak dari lipatan bajumu tentang anak-anaknya yang mati atas nama heroisme di papan-papan catur.
Mata kakimu turut menangis. Seperti asbak yang meluapkan abu dan puntung-puntung rokok. "Atas nama kemanusiaan, hentikan bisnismu!" Tapi, kita harus bikin perhitungan dengan wangi parfum, tapi kita harus cukur jenggot sebelum kiamat, tapi kita harus candle night dinner bersama Solobodan Milosevic, kita harus mewawancarai mata kakimu, tapi kita harus mengasamkan air mata beribu ibu lain yang berebut diskon di pusat-pusat perbelanjaan, lantas masih sempatkah kita jalan-jalan di buku harianmu?
Lihat baik-baik meja Mister Presiden kita yang jelita. Buku harianmu tergeletak begitu saja di salah satu ruas jalan menuju pusat perbelanjaan, persis di samping mug kopi pancung. Pada sebuah halaman yang terbuka, terdapat pintu menuju tangisan pilu sertifikat tanah yang diperkosa. Juga hutan-hutan adat. Juga kuburan-kuburan leluhur. Sekarang, maukah buku harianmu meniti seutas kalung menuju kuburan leluhur?
30.10.07
PADA SEMBARANG MALAM

Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah
Pada sembarang malam yang kita tempuh hati-hati, seonggok cerita di selokan tentang horor urban menggeliat malu-malu, seperti rajah kuno yang kita gambar ulang dengan sandi binari, seperti serapah mantra purba yang kita wartakan di layar-layar televisi, seperti berhala-berhala teknologi yang kita asapi di altar edukasi, seperti kau dan aku yang sibuk mencari tempat ber-reproduksi.
Pada sembarang malam di bulan ulang tahunmu, kita menemukan kau dan aku yang bersampan menyeberang sungai tua membelah kota, memungut artefak-artefak mutakhir kiriman filsuf-filsuf Yunani dan mengunyahnya lahap seperti makhluk kelaparan, seperti bayi yang berhari-hari dihanyutkan, seperti anak yang bertahun-tahun dianiaya orangtua kandung, seperti remaja bertahun-tahun puber dan demam tren, seperti orang-orang dewasa yang bertahun-tahun mabuk menasehati, seperti orang-orang tua yang berabad-abad rindukan mati.
Pada sembarang malam yang lain, kau dan aku bersua kita di perempatan, berbincang dengan pengemis junior yang menandaskan sebungkus nasi di separator jalan, bertanya tentang berapa umurmu? Siapa orang tuamu? Punya berapa saudara? Tidak sekolah? Tidur di mana? Sehari dapat berapa? Lalu kau dan aku melihat kita mengubah jawaban si junior dalam data-data kuantitatif, mengolahnya sedemikian rupa menjadi statistik yang jauh dari bumi.
Lalu pada sembarang malam terpilih, kau dan aku melihat kita mengajari bayi hanyut rumus-rumus statistik yang membeku di selokan.
03.09.07
MENGEJA ETALASE RUMAH MAKAN

Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah
Ketika lapar menyerang dengkulmu yang cantik, ketika lupa menyergap alis matamu yang bernyanyi, ketika rasa ingin tahu menguasai kukumu yang berdemonstrasi, ketika itulah sebuah republik terhuyung-huyung mencari kekasih. Tapi, kita sedikit telat. Hamlet dan Pak Saloi telah mengajaknya pelesiran ke hutan temabawang yang penuh copet. Jadi? Kita harus memenuhi syarat sebagai pegawai negeri. Biarlah selulit menggumpal di bokong negara, yang penting kantong pemimpin bangsa penuh kesombongan. Biarlah varises nongkrong di APBN, yang penting Hamlet dan Pak Saloi tidak mengajaknya untuk sementara waktu ber-pedikur medikur.
Dengan demikian, kita bisa bertengger diayunan dengkulmu. Bukankah nenek moyang bilang Belanda masih jauh? Sembari alismu berkaraoke The Greatest of Love Songs di antara piring-piring, kita sempat bersin sepuas hati.
03.10.07
SAAT JATUH
PERTANDA 1
Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah
Kemarin malam
kupahat sunyi digendang telingamu: tanda-tanda
yang menggetarkan jelusi
sawang, juga
sayap rama-rama
(On Pontianak Post, 16April 2006)
Kemarin malam
kupahat sunyi digendang telingamu: tanda-tanda
yang menggetarkan jelusi
sawang, juga
sayap rama-rama
(On Pontianak Post, 16April 2006)
Monolog: RECHT

(Seorang pria setengah baya duduk di sebuah sofa. Kaki kanannya ditumpangkan pada lutut kiri. Sepatu kanannya yang hitam mengkilat, sesekali bergoyang. Tangan kirinya dibentangkan pada punggung sofa. Tangan kanannya memegang telepon selular keluaran terbaru vendor terkenal, dengan jempol yang sesekali tampak memencet tombol. Wajahnya yang simpatik berkali-kali tersenyum puas).
Kalau sudah begini, siapa yang tidak akan bangga…siapa yang tidak akan bahagia…coba lihat ini (membaca SMS dengan lantang dan penuh keharuan): “Boss, kami sekeluarga mengucapkan trima kasih yang sebesar-besarnya atas pertolongan Boss. Berkat pertolongan Boss, anak kami yang tertua sekarang telah menjadi aparat. Meskipun bertugas di pelosok, berkat petuah-petuah bijak dari Boss, anak kami belum lama ini telah membuatkan untuk kami sebuah rumah baru. Sekali lagi, Boss, tanpa pernah merasa lelah, kami ucapkan terima kasih.”
Saya masih ingat betul bagaimana si Bapak ini bersama anaknya datang ke sini pertama kali. Sebagaimana kebanyakan orang yang datang menemui saya untuk keperluan serupa, raut muka mereka menunjukkan harapan dan kesungguhan. Sebagai orang yang dididik menurut kaiah-kaidah agama dan adab ketimuran, tentu, hati saya tergerak menolong. Apalagi, ada satu hal unik yang membedakan si Bapak dan anaknya ini dengan tamu-tamu saya yang lain. Si Bapak dan anaknya ini, masing-masing memikul sebuah tempayan besar. Luar biasa semangat mereka. Hati saya semakin terenyuh ketika sang Bapak menjelaskan perihal tempayan yang mereka bawa itu.
“Boss, dua tempayan ini warisan leluhur. Telah beberapa generasi keluarga besar kami menjaganya. Sebagaimana amanat moyang, kami tidak boleh menjual atau memberi tempayan ini pada pihak lain, kecuali keadaan terdesak, terutama menyangkut keselamatan dan masa depan kaum kami.”
Saya terenyuh. Sungguh-sungguh terenyuh. Betapa tidak, tempayan yang memiliki arti penting bagi keluarga besar dan kaumnya, mereka berikan kepada saya, dengan harapan saya dapat menolong agar anaknya dapat jadi aparat. Sebenarnya, dalam urusan seperti ini, saya lebih suka ‘mentahnya’ saja. Tapi, mereka memaksa. Mereka kemudian menyatakan sekiranya satu orang saja dari keluarga besarnya ada yang berhasil menjadi aparat, jelas membawa perubahan besar bagi kaumnya.
“Setiap hari, sejengkal demi sejengkal tanah dan hutan kami digerogoti. Baik oleh pertambangan, loging, maupun oleh perkebunan-perkebunan. Tujuan semulanya memang untuk menyejahterakan masyarakat. Tapi kenyataannya, yang untung, yang sejahtera hanya segelintir orang. Apakah segelintir orang ini dapat memberi manfaat bagi kebanyakan orang? Mmhhh…yang terjadi adalah kami harus menjadi budak di tanah kami sendiri.”
Sang Bapak melanjutkan cerita tentang perjuangan mereka menemui pihak-pihak terkait. Ternyata, mereka hanya menerima janji-janji kosong. Ketika mereka menuntut…(Si Boss mengepalkan tangan, berdemonstrasi. Meneriakkan berulang-ulang: “Kami menuntut janji saudara-saudara!!!)... mereka dibenturkan dengan barisan aparat, dengan dalih bahwa apa mereka perjuangkan dan bagaimana mereka berjuang adalah melanggar hukum. Dari situ pula mereka menyadari bahwa pososi tawar mereka lemah. Mereka hanya dianggap penduduk lokal yang masih terbelakang dan tidak mengerti hukum. Jadi, mereka menyimpulkan bahwa salah satu cara yang masuk akal adalah orang mereka harus ada yang menjadi aparat.
Selain itu, jika ada satu orang saja orang mereka yang bisa menjadi aparat, tentu akan semakin sedikit pelajar-pelajar yang berhenti atau tidak melanjutkan sekolah. Sebab, selama ini, orang-orang mereka tidak ada yang menjadi panutan untuk menunjukkan arti penting sekolah. Bahkan tidak sedikit orang-orang tua yang berpandangan: “Sekolah tinggi-tinggi pun kelaknya akan menginjak-injak kepala kita.”
Ternyata, usaha mencapai rencana tersebut tidak mudah. Tahun lalu saja, ada lima pemuda mereka yang mendaftar. Dua pemuda gagal pada tes-tes awal. Tiga pemuda melanjutkan dan…gagal di tes akhir. Anehnya, alasan kegagalan ketiga pemuda itu sama, yaitu mata mereka menderita semacan gangguan.
Awalnya sanak keluarga menerima alasan itu. Namun di kemudian hari, ada orang yang membisiki bahwa alasan apapun yang digunakan untuk menggagalkan seseorang pada tes akhir, termasuk alasan kesehatan mata, sesungguhnya adalah omong kosong. Karena sesungguhnya alasan adalah…(Si Boss membuat isyarat dengan tangan kirinya, menggesekkan jempol pada telunjuk).
Lantas si Bapak bercerita bahwa orang yang membisiki mereka merekomendasikan seseorang yang bisa membantu, yaitu…saya. Tapi saya tidak mau langsung membantu begitu saja. Saya harus waspada, harus jaga-jaga. Maklum jaman sekarang, tidak seperti dulu lagi. Saya tidak ingin seperti beberapa kolega. Karena terlalu mudah percaya, terlalu mudah menolong, niat yang semula mulia untuk menolong sesama manusia, justru berakhir malapetaka. Beberapa kolega terpaksa harus masuk penjara. Namun lebih banyak lagi kolega, yang meskipun tidak masuk dalam penjara, pun tetap merugi. Menghabiskan banyak biaya agar tidak di-meja-hijau-kan.
Jadi, mula-mula, saya harus tahu terlebih dulu identitas orang yang merekomendasikan saya. Maklum, untuk urusan seperti ini, syarat utamanya adalah kepercayaan. Meskipun sang Bapak menyebut sebuah nama yang saya kenal, saya tanya lagi detail lainnya. Apakah orangnya tinggi atau pendek? Gemuk atau kurus? Apakah dia punya tahi lalat di wajahnya? Letak persisnya di mana? Dekat hidung atau dekat bibir? Rambutnya? Caranya berjalan? Cara dia duduk? Cara dia bicara?
Singkat cerita, setelah yakin bahwa orang yang dimaksud adalah kawan baik saat saya bertugas di daerah, saya menelponnya. Memastikan. Ternyata benar. Hanya saja secara berguarau saya utarakan kekecewaan, kenapa dia tidak turut mengantar si Bapak dan anaknya ini. Atau paling tidak, menyertakan semacam surat pengantar.
Tapi kawan baik saya itu menjawab bahwa dirinya sedang menangani sebuah kasus yang…sensitif. Maksudnya melibatkan orang-orang penting di sana. Sehingga ia benar-benar minta maaf tidak bisa mengantar mereka dan menelpon saya. Tentang surat pernyataan, kawan baik saya itu berseloroh: “Surat pengantar? Waduh, Boss. Jangan-jangan akan menjadi bukti kasus sensitif untuk kita berdua…”
Kemudian, ia juga mengharapkan agar saya sungguh-sungguh menolong si Bapak dan anaknya itu. Karena menurutnya, si Bapak itu pernah menyelamatkan nyawanya dalam suatu peristiwa. Ia juga mengatakan bahwa tempayan yang mereka bawa itu bukan barang biasa. Agar saya yakin, ia menyarankan saya menghubungi seseorang, kawan kami juga, yang sangat paham tentang baran-barang antik.
Demikianlah, selesai menelpon, saya berbincang lagi dengan si Bapak dan anaknya. Saya periksa nilai-nilai ijazahnya. Saya perhatikan benar-benar raut muka dan postur anaknya. Setelah itu saya menyilakan mereka istirahat di kamar tidur tamu.
Setelah yakin mereka istirahat karena perjalanan jauh yang melelahkan, sebagai warga negara yang baik, saya menelpon ketua RT. Saya lapor ada keluarga yang datang dan menginap. Kemudian, saya menghubungi kawan yang benar-benar paham barang-barang antik. Di luar dugaan, dia sangat anusias. Langsung datang malam itu juga. Tepatnya menjelang tengah malam. Begitu saya tunjukkan dua tempayan itu, saya sendiri sampai terheran-heran melihat reaksinya.
(Dengan tangan seolah memegang kaca pembesar, si Boss meneliti dengan saksama dua tempayan yang juga seolah-olah ada di ruangan itu).
“Luar biasa…! Luar biasa…! Ini barang, dicari-cari banyak orang. Luar biasa…! Boss…Boss sungguh beruntung. Jangankan menjadi pemiliknya, menjadi perantara saja, Boss sudah dapat untung besar.”
“Kok bisa?”
“Dua tempayan ini memiliki nilai sejarah tinggi. Dulu, ketika terjadi kontak pertama perdagangan antara saudagar-saudagar China dengan penduduk pribumi, barang-barang inilah yang menjadi komoditas mereka.”
“Ini asli?”
“Percayalah, Boss. Sebagimana yang Boss ketahui, bisnis ini adalah bisnis turun temurun keluarga saya. Bahkan saya sudah terlibat bisnis ini sejak masih dalam kandungan ibu.”
“Tempayan ini benar-benar dicari banyak orang?”
“Sebentar, Boss. Itu tergantung pengertian Boss tentang apa yang dimaksud dengan ‘banyak orang’. Kalau yang dimaksud adalah mereka-mereka yang mengerti dan suka mengoleksi barang-barang antik seperti ini, jelas, rata-rata mereka memburunya. Tapi kalau yang dimaksud adalah keseluruhan orang di dunia, di Indonesia atau keseluruhan orang di propinsi ini, hehe…tentu saja banyak orang yang tidak tahu.”
“Kok?”
“Yeah…maklum sajalah, Boss, bagaimana pengajaran sejarah di negara kita. Anak-anak kita lebih paham sejarah luar negeri dan sejarah di pulau Jawa ketimbang sejarah di tempat sendiri.”
“Edi Soed, Rahmat Kartolo?”
“Kita ambil contoh. Anak-anak kita diajarkan di sekolahnya tentang peradaban Mesir, Mesopotamia, Persia, Inca dan lain sebagainya. Begitu pula tentang Sriwijaya, Majapahit, Mataram, Pajang, Banten dan lain-lain. Tapi apakah mereka tahu tentang kerajaan Tanjungpura, Matan, Sukadana dan kerajaan-kerajaan lain di Kalimantan Barat ini? Apakah mereka tahu bahwa di tanah ini pernah lahir sebuah republik sebelum Republik Indonesia diproklamirkan, bahkan sebelum Amerika Serikat menyatakan kemerdekaan? Apakah mereka juga diajarkan bahwa propinsi ini dulunya pernah menyandang predikat Daerah Istimewa? Apakah mereka juga dijelaskan bahwa pencabutan predikat pada waktu itu adalah akibat konstelasi elit politik di Pusat sana?... Yang tahu sedikit, Boss. Sedikit sekali…Boss, kalau boleh tanya pendapat, menurut Boss apa penyebabnya?”
“Mungkin…karena…orang kita yang menjadi sejarawan masih sedikit…”
“Setuju! Dan saya pun setuju dengan istilah yang Boss gunakan: ‘masih sedikit’. Setidaknya cukup sopan bagi orang timur seperti kita, untuk menyebut keadaan yang sebenarnya, yaitu: ‘tidak ada!’….Huahaha…”
(Masih dengan sisa kekehan, si Boss kembali ke sofa).
Saya jadi terobsesi menguliahkan anak nomor dua saya ke jurusan sejarah di pulau Jawa. Celakanya, masih di semester-semester awal, anak saya itu bergaul rapat dengan mahasiswa-mahasiswa aktivis. Maksud saya yang semula agar ia menyelidiki dan menduniakan kesejarahan di tanah ini…ee…tahunya saya yang ia kuliahi.
“Pak, sebaiknya Bapak berhenti membantu orang yang ingin jadi aparat. Sebab, Bapak akan menjadi bagian dari sistem yang bikin kropos negeri ini. Kita harus belajar dari sejarah, Pak. Kenapa Belanda yang sudah tiga setengah abad menjajah kita, ketika diserang Jepang, aparatnya terbirit-birit lari ke ketiak ibunya? Kondisi terkini negara kita, kurang lebih sama dengan keadaan Belanda waktu itu. Warga yang ingin menjadi aparat, bukan karena fungsi, tapi karena statusnya. Akibatnya, segala cara ditempuh demi mencapainya. Yang bikin saya sedih, orang tua saya terlibat secara aktif dalam jaringan itu.”
“Lantas maumu?”
“Bapak berhenti membantu orang-orang itu.”
“Lha…untuk biaya kuliahmu saja dari situ?”
“Kalau begitu, saya berhenti kuliah.”
“Yakin? Apa fasilitasmu di sana kurang? Kamu ingin mobil?”
“Tidak, Pak. Saya tidak mau kuliah saya di biayai dari usaha yang merongrong keutuhan negara yang saya cintai ini!”
(Air muka si Boss kembali berombak.)
Ada benarnya juga kalau ada orang yang bilang menyekolahkan anak tinggi-tinggi pun akhirnya akan melangkahi kepala kita. Tidak usah jauh-jauh. Anak saya sendiri contohnya. Tapi saya tidak bisa memarahinya. Sebab, satu malam sebelum ia turun demonstrasi, saya sempat menelponnya: “Apa kamu pikir kamu sudah hebat jadi aktivis? Jadi demonstran? Bukankah kalau bukan karena aku, bapakmu ini, yang membiayai kuliahmu, sesungguhnya kamu hanyalah seorang pengangguran?!”
Keesokan harinya, saat demonstrasi ia tertembak. Dan sampai sekarang, aparat tak sanggup mengungkapnya…
(Si Boss kembali duduk di sofa dengan muka keruh. Memainkan tuts ponselnya secara tak menentu. Lampu fade out.)
-oOo-
Kota Hantu, Juli 2007
Catatan:
- Recht dalam bahasa Belanda berarti Hukum.
- Atas saran beberapa sahabat, petunjuk panggung diminimalisir dan deskripsi diperluas dengan tujuan agar memudahkan pembacaan, baik oleh orang yang sudah paham maupun yang masih awam tentang teater.
- Lampu fade out adalah bagian dari teknik tata cahaya. Lampu berangsur meredup sampai gelap sama sekali.
- Jika ada pihak yang ingin mementaskan dan mengadakan penyesuaian pada beberapa bagian (yang bersifat teknis, tanpa mengurangi substansi tema), cukup konfirmasi kepada penulis via e-mail: amrin_zr@yahoo.co.id
WANITA PENJAGA API

"Ceritakan padaku tentang wanita dan cahaya,” pinta Muja, seraya memperbaiki posisi duduk, lebih mendekap padaku.
“Kenapa harus wanita dan cahaya?” tanyaku sambil menikmati sejuntai rambut yang menari di pipinya, dipermainkan angin pantai. Kucegah tangannya yang bergerak hendak menyelipkan kembali rambut itu ke belakang telinga. Terus kugenggam tangannya, erat.
“Apa kau tidak menyimpan cerita yang demikian?” ia balik bertanya. Dengan halus ia mencoba melepas genggamanku. Sambil menggeleng pelan, genggamanku semakin kueratkan.
…
Baiklah, Muja, aku akan bercerita. Cerita ini kudapatkan pertama kali dari almarhumah nenekku, puluhan tahun silam. Saat itu, usiaku beranjak belasan. Aku dan keenam sepupu yang lain, yang kerap pulang kampung saat libur sekolah, selepas Dzuhur, selalu minta didongengkan oleh Nenek. Di tengah ruang ia akan berbaring. Dan kami cucu-cucunya yang kurang lebih berusia sama. Duduk mengelilinginya. Sambil memijat-mijat lengan dan kakinya, memeriksa dan mencabut uban-uban pendeknya. Aku ingat benar kata-kata Nenek saat memulai cerita ini.
"Suatu saat,” katanya dengan mata menerawang, melewati jendela besar ruang tengah, melampaui batang-batang pohon kelapa tepi sungai, menyeberangi Sungai Kapuas yang mengalir tenang, menusuk jauh ke dalam rimba raya hutan seberang, “jika ada di antara kalian yang bertemu wanita dengan mata bercahaya, seakan ada nyala pelita kecil di dalamnyua,” dengan gemetar ia melanjutkan, “menjauhlah…!”
Kami terkesima.
…
Sore semakin jatuh. Di ufuk barat, semburat tembaga menyepuh parade gundukan awan. Senja yang sungguh menawan. Burung-burung beterbangan mencari jalan pulan, ke bentangan kawat-kawat listrik pusat kota. Lascar kelelawar, berhamburan dari ceruk-ceruk bumi, dalam formasi anaeh, memulai ritual menyongsong datangnya malam. Angin sepoi. Rambut Muja berombak. Dengan latar sunset seperti sekarang, dengan mentari yang tianggal separuh bulat ditelan cakrawala laut nun jauh di sana, rambut Muja yang sesungguhnya gela pekat, seakan menyala. Setiap helai rambutnya yang meri bebas oleh angain, seolah dilapisi cahaya kemilau keemasan.
“Lanjutkan ceritamu.”
“Nghh…sampai di mana tadi?”
…
Rupanya, Muja, di seberang kampungku, pernah menjadi pemukiman, beratus-ratus tahun silam. Aku ingat, pada liburan cawu berikutnya, saat musim durian, kamiberenam dibawa Kakek dan Nenek melewati daerah itu. Tak jauh dari tebing sungai, pada sebuah tempat darat, Kakek mengais lapisan humus yang cukup tebal. Tampaklah kemudian sisa-sisa tonggak yang terbakar. Kata Kakek, itu adalah kayu belian tiang rumah orang zaman dulu.
“Mereka leluhur kita,” kata Kakek. Selanjutnya, kami juga ditunjukkan sebuah kawasan tebing bersemak, di mana terdapat banyak batu berjejer rapi. Itu kuburan kuno. Kuburan leluhur. Anehnya, Muja, malamnya, sebagian dari kami para cucu, termasuk aku, terserang deman panas yang sangat hebat. Tapi dengan hanya dipercikkan air – tantunya sudah dijampi-jampi nenek, karena nenekku tabib kampung, Muja – kami sembuh. Kata nenek, apa yang kami bertiga alami adalah pertanda dari leluhur.
…
“Terus?” tanya Muja, mengakhiri sejenak lamunanku setelah bercerita, “apa hubungannya tempat itu dengan wanita yang memiliki mata bercahaya?”
Tapi aku cuma nyengir. Lantas menyeruput habis jus sawo kesukaanku. Sebentar aku memandang berkeliling, ke pondok-pondok kafe yang lain. Beberapa di antaranya sudah kosong. Kembali aku menatap Muja.
“Kenapa memandangku seperti itu?” tanya Muja saat kunikmati indah matanya.
“Matamu bagus.”
“Mataku rusak. Rabun jauh. Kau tau itu,kan?”
“Aku hanya memeriksa, siapa tahu di matamu ada nyala pelita.” “Ooo…begitu?! Nih!...Lihat puas-puas,” katanya dengan mata membelalak.
“Hehe…itu, sih, bukan lagi nyala pelita, malah obor yang menyala…” “Dasar…!” pekiknya kecil seraya menghujaniku dengan cubitan gemas.
…
Jadi, Muja, di tempat itulah, dahulu kala, pernah berdiam wanita penjaga api. Mereka, atas mandat seluruh warga kampung, bertugas menjaga tiga buah pelita di dalam sebuah gua di belakang kampung. Mereka dipilih oleh alam. Artinya, anak siapapun dia, jika perempuan dan lahir dalam cuaca hujan badai, maka ia adalah wanita penjaga api.
Tentunya kau bertanya, Muja, kenapa harus perempuan? Kenapa harus yang lahir dalam hujan badai? Ada sejarahnya, Muja. Berhubungan erat dengan asal mula berdirinya kampung itu. Sebenarnya, tempat itu bukanlah pilihan kaum leluhurku sebagai tempat bermukim yang baru.
Oh…hampir lupa kuceritakan padamu, Muja. Ketika itu kaum leluhurku meninggalkan pemukiman lama mereka karena bencana alam. Lumrah pada masa itu, orang membuat perkampungan di dalam sungai-sungai kecil. Bukan di tepi sungai besar seperti Kapuas, seperti sekarang. Konon, menurut nenekku, selain untuk keperluan berladang, orang membuat kampung di dalam sungai kecil adalah demi alasan keamanan. Soalnya, pada masa itu, masih kental tradisi mengayau, ritual memenggal kepala untuk menunjukkan kedewasaan, mendapatkan semacam gelar ksatria atau untuk memperolah kesaktian.
Jadi, Muja, suatu ketika, pemukiman lama kaum leluhurku mendapat bencana banjir bandang yang ganas. Kemudian, dengan perahu-perahu sederhana, mereka keluar dari sungai kecil itu. Selain meminta pendapat roh-roh gaib, para sesepuh kaum leluhurku dengan cermat memeriksa setiap lokasi baru. Tetapi, selain tidak layak menurut para sepuh, juga belum mendapat perkenan dri roh-roh gaib.
Mereka terus mudik, mudik, dan mudik melawan arus Kapuas mencari tempat baru. Dalam pencarian itu, Muja, pada sebuah tempat mereka terpaksa merapat. Karena saat itu, angin, bertiup kuat dan langit dipenuhi mendung hitam pekat yang menandakan akan segera turun hujan lebat.
Setelah menyembunyikan perahu di sebuah anak sungai, mereka naik ke daratan. Dengan cepat mereka membuat dangau-dangau. Kebetulan sekali, ketika mencari kayu-kayu dan dedaun untuk ramuan dangau, mereka menemukan sebuah gua besar. Sehingga sebagian besar rombongan berteduh di situ. Kemudian, hujan pun turun dengan lebatnya. Angin menderu-deru. Gemuruh guntur bersahtu-sahutan. Petir sabung-menyabung di langit. Daun-daun berguguran. Ranting dan dedahan berpatahan. Kayu-kayu bertumbangan. Dangau-dangau porak poranda. Sehingga kemudian, terpaksa mereka berjejal semuanya ke dalam gua.
Sementara itu, petir yang sabung-menyabung di langit, entah kenapa, lidah apinya senantiasa menuju ke mulut gua. Pada beberapa tempat di sekeliling mulut gua, sambaran petir berhasil meruntuhkan dinding tebing.
Konon menurut nenek, karena terancam, sebab bisa saja lidah petir melongsorkan bebatuan di atas mulut gua, yang berarti bisa-bisa mereka terkubur hidup-hidup semuanya, salah seorang sepuh yang memiliki kesaktian tinggi, berkelahi dengan petir itu. Benar-benar berkelahi, Muja, berkelahi! Tepat di atas mulut gua ia berdiri. Menyambut setiap lidah api yang datang. Ada yang berhasil ditangkapnya, kemudian ia lemparkan kembali ke celah-celah awan. Selalu terdengar gemuruh ledakan yang maha dahsyat di langit setiap ia berhasil mengirim balik lidah-lidah api itu, yang selalu pula disambut gegap gempita pekik perang seluruh masyarakatnya yang di dalam gua. Mereka semua harap-harap cemas. Siapakah yang bakal menjadi pemenang? Sesepuh mereka? Ataukah petir itu?
Setelah perkelahian berlangsung seperempat hari, hujan mulai mereda. Angin tak lagi kencang. Hujan tinggal gerimis. Beberapa sepuh menyusul keluar, mencari sepuh yang berkelahi dengan petir tadi. Mereka menemukannya bersandar di dinding batu atas gua. Tubuhnya melepuh luka. Tangan kanannya menggenggam erat-erat lidah api yang masih jilat menjilat menyala. Ia dibopong masuk. Dan lidah api itu kemudian di pindahkan pada tiga buah pelita.
Sementara itu, Muja, ketika perkelahian melawan petir sedang berlangsung dengan serunya, salah seorang anggota rombongan yang hamil tua, diriringi gegap gempita pekik peperangan, melahirkan bayi perempuan. Dialah kemudian, atas bisikanroh-raoh gaib yang diterima para sepuh, ditunjuk sebagai wanita penjaga api pertama. Demikianlah, Muja. Tempat itu akhirnya dipilih sebagai tempat bermukim baru leluhurku. Dalam beberapa generasi, perkampungan itu maju pesat. Hasil ladang melimpah. Ikan-ikan di sungai pun bisa didapat dengan mudah. Pemua-pemudanya banyak yang berkelana dan berhasil menjadi orang besar di negeri rantau. Tokoh-tokoh kampung, kerap diundang ke istana kerajaan (sekarang sudah menjadi ibukota kabupaten, Muja) untuk dimintai pendapat mengenai kemajuan negeri. Demikian pula denan para pemusik dan penyanyi, sering mereka dijemput dengan bidar-bidar nan menawan, untuk menghibur raja dan keluarganya serta tetamu dari lain kerajaan.
Semua kemajuan itu, Muja, tak lepas dari peranan wanita-wanita penjaga api. Untuk membakar ladang misalnya – bukan berarti mereka tak mengenal cara membuat api dari batu atau kayu lempung – selalu apinya diambil dari pelita-pelita yang dijaga para wanita itu. Niscaya, hasil panen akan baik. Demikian pula untuk memasak, maka apapun makanannya, saiapa saja yang menyantapnya akan memiliki kewibawaan dan suara yang sangat bagus. Jika ia pria, maka wajahnya akan memancarkan keteguah hati, suaranya lantang serta fasih, sehingga siapa saja akan terdesima menyimak kata demi kata yang diucapkannya. Jika ia perempuan, wajahnya bersinar menawan, gerak tuturknya terpuji mengesankan dan senandungnya akan merdu di pendengaran, sanggup memikat sukma sesiapa saja yang rindu penghiburan.
Tapi nenekku, Muja, tidak tahu dengan persis berapa generasi sebenarnya para wanita penjaga api itu. Tapi yang jelas, jarang melebihi dua orang. Seakan sudah diatur, Muja, jika seorang penjaga api sudah berumur, selalu ada bayi perempuan yang lahir dalam hujan badai, sebagi teman, serta menggantikannya kelak jika ia sudah wafat.
…
“Ada baiknya kita pulang sekarang,” kataku setelah manghabiskan gelas kedua jus sawo.
“Tapi ceritamu blum selesai!” protesnya sengit.
Ada semacam kebahagiaan aneh menyelinap dalam benakku saat melihat keantusiasan di wajah cantiknya.
“Sudah berapa lama kita pacaran, Muja?”
“Bukankah kita ke sini untuk merayakan tahun ketiga?”
“Dan…kau bukan keturunan wanita penjaga api, kan?”
“Lho…kenapa? Apa selama ini kau pernah melihat mataku bercahaya? Dan kau tahu, kan, keluargaku berasal dari pulau seberang, dari garis keturunan mana aku berhubungan dengan wanita penjaga api itu, lantas, semisal pun iya, aku keturunannya, memangnya kenapa? Nah…nah…di situlah letak belum selesainya ceritamu. Apa yang kemudain terjadi dengan para wanita penjaga api itu? Kenapa pula akhirnya kampung itu ditinggalkan? Dan kenapa pula kalian disuruh menjauh dari wanita dengan mata bercahaya?”
Diberondong pertanyaan-pertanyaan seperti itu, semakin terasa bahwa aku sangat mencintainya. Segera kurengkuh ia dalam pelukan. Sambil membelai rambutnya yang legam dan panjang, aku berbisik:
“Selain untuk merayakan tiga tahun kebersamaan kita, sebenarnya…aku hendak menyampaikan sesuatu kepadamu…”
“Katakanlah…” ujarnya seraya balas membelai punggungku dengan lembur.
“Mau kuselesaikan dulu ceritaku?”
…
Untuk menjawab semua pertanyaanmu tadi, Muja, akan kuceritakan apa yang dialami salah seorang sepupuku. Ia adalah salah satu dari kami bertiga yang terserang demam panas setelah mengunjungi kuburan leluhur. Peristiwa itu, kalau aku tak salah ingat, terjadi kira-kira tiga bulan sebelum aku mengenalmu.
Saat itu ia hendak menikah dengan seorang penyanyi kelab malam. Tapi ditentang habis-habisan keluargaku. Bukan karena profesinya, Muja, bukan. Tapi karena penyanyi kelab malam itu adalah keturunan wanita penjaga api, aku menyaksikan sendiri, betapa dari dalam dua bola matanya, memancar cahaya dua nyala pelita. Aku dan beberapa keluarga lelaki lain yang masih lajang, kecuali sepupuku yang hendak menikah itu, seketika berkeringat kepanasan. Sakit sekali rasanya, Muja. Sakit. Seakan sekujur tubuh berada di dalam kobar api.
Tetapi, Muja, sepupuku itu tak mau mendengar. Malam itu juga, mereka pergi meninggalkan kampung. Setiba di kota, esok paginya mereka berangkat ke kota lain. Namun dalam perjalanan itu, bis yang ditumpanginya masuk jurang dan terbakar. Sopir, kernet dan seluruh penumpang tewas dalam keadaan mengenaskan. Gosong oleh api. Kecuali mayat wanita keturunan penjaga api itu, Muja, tubuh dan pakainnya utuh dalam pelukan sepupuku.
Demikianlah, Muja, kenapa kami disuruh menjauh. Dan sebenarnya, Muja, para wanita penjaga api itu tidak memiliki keturunan, karena mereka tidak boleh kawin. Mereka harus suci sampai mati. Kecuali wanita penjag api terakhir, ia menjalin cinta dengan seorang pemuda dan kemudian hamil. Mereka dihukum, diarak telanjang bulat keliling kampung. Setelah itu dibuang ke sungai. Sebelum dicemplungkan ke sungai, wanita penjaga api itu sempat mengucapkan serapah.
Katanya, bukan kehendaknya ia lahir dalam huja badai, bukan keinginannya menjadi wanita penjaga api. Ia hanya ingin menjadi wanita biasa. Tapi warga kampung sudah bulat, mereka harus dihukum. Ia kemudian berjanji, jika ia mati dalam hukuman, arwahnya akan membalas dendam, jika ia selamat, keturunanya akan senantiasa membayangi keturunan seluruh warga kampung dalam terror mematikan.
Beberapa hari setelah proses hukuman itu, Muja, warga kampung menemukan hanya jenazah si pemuda, tanpa wanita penjaga api. Setelah jenazah itu dikebumikan, malamnya, rumah-rumah penduduk terbakar…
…
“Ihhh…” terbayang ngeri di wajah Muja. Ia semakin tenggelam.
Sambil terus membelai, kuhayati aroma dan hangat tubuhnya. Tubuh kekasihku, calon pendamping hidupku. Aku bersyukur, ia bukan keturunan wanita penjaga api.
“Muja…” bisikku, “maukah kau jadi istriku?” Ia tengadah dan menatapku lekat-lekat.
“Ini sebuah permintaan, Muja, yang bisa kau tolak atau kau terima. Tapi aku sangat berharap, kau menerimanya, Muja.”
“Perkawinan bukan perkara main-main…” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. “Kau bersungguh-sungguh?!”
Aku mengangguk mantap.
“Kau mau menerimaku apa adanya?” tanyanya dengan tatapan penuh selidik.
Kuhapus air mata yang mengalir di pipinya.
“Meskipun seandainya aku keturunan wanita penjaga api?”
“Aku yakin bukan,” jawabku balas menatapnya lekat-lekat.
“Aku bersedia,” katanya mengangguk manja dan tersenyum bahagia. Dari bening dua bola matanya yang masih berkaca-kaca, tampak nyala dua pelita…
~SELESAI~
Pontianak, 15 Januari 2004
Cerita ini kudedikasikan buat Yang Terpilih: Fitri Mayasari
TEATER SEKOLAH, REPOSISI DAN TAKSONOMI BLOOMS
Salam Budaya!
Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat yang maju adalah masyarakat yang menghargai seni budaya. Berbekal keyakinan ini, maraknya pertumbuhan teater-teater sekolah dalam beberapa tahun terakhir di kota Pontianak , merupakan fenomena yang sangat menggembirakan. Sekadar menyebutkan beberapa contoh (mohon maaf, jika ada yang tidak tercantum), ada Sanggar Seni Budaya Cadar (SMKN 3), Sanggar Pituah Enggang (SMA 8), Teater Gelombang (SMAN 2), Teater Aladin (MAS Mujahidin), Teater Muda (SMA Muhammadiyah 2), Teater Tembak (SMA Bhayangkari), Teater Masker (SMPN 2) dan lain sebagainya.
Sebagai institusi kolektif, yang didalamnya terdapat individu-individu, serta dipengaruhi ruang, waktu, pemikiran dan perkembangan jaman, sanggar-sanggar tersebut menjalani sifatnya yang alamiah, yaitu proses. Sehingga ada sanggar yang setelah sekali pementasan lalu kemudian mati suri, ada yang berkembang secara elegan, serta ada pula yang maju secara pesat.
Di sisi lain, pertumbuhan tersebut berdampak terhadap kuantitas dan kualitas penonton. Ternyata bukan hanya anak sekolah yang mengunjungi pertunjukan teater, keluarganya pun turut serta. Selain itu, terdapat pula anggota sanggar yang setelah menamatkan studi, melanjutkan sekolahnya pada perguruan-perguruan tinggi seni di pulau Jawa.
Perkembangan positif sebagaimana digambarkan diatas, semoga tidak membuat pelaku-pelaku teater larut dalam utopia. Sebab, pembinaan teater tidak pernah mengenal kata “selesai”. Pencapaian yang ada sekarang, jelas merupakan akumulasi banyak faktor. Sebut saja peran pemerintah, peran kepala sekolah dan guru, peran keluarga, masyarakat, media massa dan lain sebagainya, serta yang tak boleh dilupakan adalah peran dari insan-insan pelaku teater itu sendiri, yang ditunjukan lewat performa, perilaku dan unjuk karya. Dengan pemahaman seperti ini, komunikasi dan silaturahmi kepada semua pihak, terutama antar pelaku seni teater, mutlak terus dilakukan.
Muara dari upaya tersebut adalah percepatan serasi antara pertumbuhan komunitas-komunitas teater dan kemampuan khalayak luas selaku kumpulan individu masyarakat penonton dalam mencerap, baik keberadaan organisasi maupun hasil karya. pementasan. Kesetimbangan antara dua aspek tersebut adalah tumbuh berkembangnya kesadaran dalam masyarakat tentang arti penting teater dalam dinamika sosial, yang bukan hanya sebagai sarana penghibur semata, melainkan sekaligus sebagai media pendidikan. Di sisi lain, teater juga tumbuh dengan kepekaan membaca kondisi sosial masyarakat membaca tanda-tanda jaman, untuk kemudian diendapkan dalam permenungan jujur dan mendalam yang selanjutnya diwujudkan dalam pementasan karya teater.
Dengan demikian, tidak hanya keterwakilan dan rasa memiliki yang ada dalam benak dan hati masyarakat penonton ketika menikmati pertunjukan, tetapi juga bahwa teater dalam arti keberadaan dan perbuatan, berperan vital dalam proses sosial. Reposisi terhadap kedudukan dan fungsi teater dalam masyarakat, sesegera mungkin harus dilakukan secara bijak. Betapa tidak, stigma buruk yang melekat pada teater, ternyata masih terlacak pada benak orang banyak. Ambil contoh ungkapan: “Ah, itukan cuma sandiwara!” Lantas, ketika seseorang yang sukes dikerjai rekannya akan mengatakan: “Busyet, akting Ente bagus!” Ketika tidak terima dengan keputusan pengadilan, pihak-pihak yang merasa dirugikan berteriak lantang: “Jangan jadikan sidang pengadilan yang terhormat ini sebagai panggung sandiwara!” Ketika terjadi kasus nyata penculikan, orang akan mengatakan peristiwa tersebut sebagai : “Drama Penculikan”. Bahkan terhadap fenomena aneh tapi nyata yang terjadi di Kalimantan Barat, yaitu tetap pedenya figur-figur pemimpin melaju menuju tahta KB 1, padahal yang bersangkutan nyata-nyata tersangkut hukum, orang yang mengaku dirinya tidak gemar politik praktis pun bisa dengan enteng mengatakan : “Ah, itukan cuma sandiwara politik...”
Sebagian contoh kasus yang penulis kemukakan di atas, menunjukkan bahwa teater kerap menjadi sasaran tembak alias kambing hitam. Imbas stigma buruk itu pernah dirasakan oleh sahabat penulis, yaitu M. Ali Nafia (Ali 13) yang merupakan salah seorang teaterawan dari Komunitas Santri (Komsan) STAIN Pontianak . Ketika itu, ia bersama beberapa rekan, mengadakan sosialisasi sekaligus menjajaki kemungkinan pembentukan sanggar teater pada salah satu SMA Negeri di Kota Pontianak . Niat yang melandasi kedatangan mereka di antaranya adalah itikad untuk mengembangkan dunia teater Pontianak , serta menyalurkan bakat dan minat siswa-siswa di sekolah tersebut. Kedatangan mereka disambut baik oleh petinggi sekolah. Setelah bertukar salam, berbincang ringan dan presentasi, maka terjadilah dialog. Singkat cerita, selain memutuskan untuk tidak mengadakan ekstrakurikuler teater pada institusi pendidikan yang dipimpinnya, Sang Decission Maker tertinggi sekolah tersebut juga menutup pembicaraan dengan kalimat: “Maaf, Dik. Kalau mau cari uang kecil, jangan di sini dan dengan cara seperti ini.”
Luar biasa, bukan? Betapa niat untuk membentuk sanggar teater sekolah dianggap setara dengan upaya mencari uang kecil alias mengemis! (Dalam hal ini, penulis angkat topi untuk semangat baja Ali 13 dan rekan yang tetap giat berteater dan mengadakan sosialisasi pada sekolah-sekolah lain. Salut!). Saat pertama mendengar kisah tersebut, penulis memberi sedikit komentar bahwa kemungkinan besar beliau sedang khilaf dan lupa-lupa ingat sekurang-kurangnya terhadap dua hal, yaitu tentang posisi dan fungsinya selaku pendidik yang salah satunya adalah keteladanan, serta tentang Taksonomi Blooms. Blooms, seorang pakar Paedegogik dunia, mengemukakan bahwa proses pembelajaran harus mencakup tiga ranah kemampuan pebelajar, yaitu kognitif (pengetahuan/akal), afektif (perasaan/sikap) dan psikomotorik (kontrol jasmani).
Dikaitkan dengan teater sekolah, selain sebagai media penyaluran minat bakat siswa, serta sebagai kawah Chandradimuka pembentukan kepribadian (Character Buildings), proses latihan teater yang kompleks, nyata-nyata selaras dengan Taksonomi Blooms. Simak saja contoh-contoh dalam latihan-latihan dasar yang berkenaan dengan pengembangan kemampuan Kognitif, mulai dari reading, menghafal naskah, dan lain sebagainya sampai kepada kemampuan bedah naskah dan analisis pemeranan. Berkenan dengan kemampuan Afektif, mulai dari prev, olah rasa, kontemplasi, observasi dan lain sebagainya sampai kepada kemampuan menghayati tokoh cerita dalam naskah. Demikian pula halnya kemampaun Psikomotorik, mulai dari pemanasan, olah tubuh, olah vokal, mimik, pose, gesture, pantomime, moving, grouping dan lain sebagainya sampai kepada blocking pementasan. Sementara itu, dari sisi produksi, kemampuan menejerial, kerjasama tim, beserta lika-liku penyelenggaraan pementasan, adalah laboratorium lengkap bagi pengembangan nilai-nilai moral, mental, spiritual dan intelektual siswa.
Dugaaan penulis tentang beliau yang sedikit lupa-lupa ingat tentang Taksonomi Blooms, di kemudian hari ternyata benar. Buktinya, pihak sekolah yang bersangkutan akhirnya meminta bantuan kepada salah seorang pengurus Sanggar Pituah Enggang (Pitung) untuk membentuk sanggar teater. Mengetahui hal tersebut, penulis tersenyum dan geleng-geleng kepala. Satu lagi peristiwa aneh tapi nyata terjadi di bumi Kalbar, karena setahu penulis, salah satu pihak yang membina Pitung adalah Komsan.
“Maaf , Pak. Sudah punya uang kecil, ya?”
Salam Budaya!
Penulis adalah peminat masalah sosial dan seni budaya.
Cerpenis, anggota Komunitas Seni Jalan Lain (KSJL)
STKIP PGRI Pontianak
amrin_zr@yahoo.co.id
Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat yang maju adalah masyarakat yang menghargai seni budaya. Berbekal keyakinan ini, maraknya pertumbuhan teater-teater sekolah dalam beberapa tahun terakhir di kota Pontianak , merupakan fenomena yang sangat menggembirakan. Sekadar menyebutkan beberapa contoh (mohon maaf, jika ada yang tidak tercantum), ada Sanggar Seni Budaya Cadar (SMKN 3), Sanggar Pituah Enggang (SMA 8), Teater Gelombang (SMAN 2), Teater Aladin (MAS Mujahidin), Teater Muda (SMA Muhammadiyah 2), Teater Tembak (SMA Bhayangkari), Teater Masker (SMPN 2) dan lain sebagainya.
Sebagai institusi kolektif, yang didalamnya terdapat individu-individu, serta dipengaruhi ruang, waktu, pemikiran dan perkembangan jaman, sanggar-sanggar tersebut menjalani sifatnya yang alamiah, yaitu proses. Sehingga ada sanggar yang setelah sekali pementasan lalu kemudian mati suri, ada yang berkembang secara elegan, serta ada pula yang maju secara pesat.
Di sisi lain, pertumbuhan tersebut berdampak terhadap kuantitas dan kualitas penonton. Ternyata bukan hanya anak sekolah yang mengunjungi pertunjukan teater, keluarganya pun turut serta. Selain itu, terdapat pula anggota sanggar yang setelah menamatkan studi, melanjutkan sekolahnya pada perguruan-perguruan tinggi seni di pulau Jawa.
Perkembangan positif sebagaimana digambarkan diatas, semoga tidak membuat pelaku-pelaku teater larut dalam utopia. Sebab, pembinaan teater tidak pernah mengenal kata “selesai”. Pencapaian yang ada sekarang, jelas merupakan akumulasi banyak faktor. Sebut saja peran pemerintah, peran kepala sekolah dan guru, peran keluarga, masyarakat, media massa dan lain sebagainya, serta yang tak boleh dilupakan adalah peran dari insan-insan pelaku teater itu sendiri, yang ditunjukan lewat performa, perilaku dan unjuk karya. Dengan pemahaman seperti ini, komunikasi dan silaturahmi kepada semua pihak, terutama antar pelaku seni teater, mutlak terus dilakukan.
Muara dari upaya tersebut adalah percepatan serasi antara pertumbuhan komunitas-komunitas teater dan kemampuan khalayak luas selaku kumpulan individu masyarakat penonton dalam mencerap, baik keberadaan organisasi maupun hasil karya. pementasan. Kesetimbangan antara dua aspek tersebut adalah tumbuh berkembangnya kesadaran dalam masyarakat tentang arti penting teater dalam dinamika sosial, yang bukan hanya sebagai sarana penghibur semata, melainkan sekaligus sebagai media pendidikan. Di sisi lain, teater juga tumbuh dengan kepekaan membaca kondisi sosial masyarakat membaca tanda-tanda jaman, untuk kemudian diendapkan dalam permenungan jujur dan mendalam yang selanjutnya diwujudkan dalam pementasan karya teater.
Dengan demikian, tidak hanya keterwakilan dan rasa memiliki yang ada dalam benak dan hati masyarakat penonton ketika menikmati pertunjukan, tetapi juga bahwa teater dalam arti keberadaan dan perbuatan, berperan vital dalam proses sosial. Reposisi terhadap kedudukan dan fungsi teater dalam masyarakat, sesegera mungkin harus dilakukan secara bijak. Betapa tidak, stigma buruk yang melekat pada teater, ternyata masih terlacak pada benak orang banyak. Ambil contoh ungkapan: “Ah, itukan cuma sandiwara!” Lantas, ketika seseorang yang sukes dikerjai rekannya akan mengatakan: “Busyet, akting Ente bagus!” Ketika tidak terima dengan keputusan pengadilan, pihak-pihak yang merasa dirugikan berteriak lantang: “Jangan jadikan sidang pengadilan yang terhormat ini sebagai panggung sandiwara!” Ketika terjadi kasus nyata penculikan, orang akan mengatakan peristiwa tersebut sebagai : “Drama Penculikan”. Bahkan terhadap fenomena aneh tapi nyata yang terjadi di Kalimantan Barat, yaitu tetap pedenya figur-figur pemimpin melaju menuju tahta KB 1, padahal yang bersangkutan nyata-nyata tersangkut hukum, orang yang mengaku dirinya tidak gemar politik praktis pun bisa dengan enteng mengatakan : “Ah, itukan cuma sandiwara politik...”
Sebagian contoh kasus yang penulis kemukakan di atas, menunjukkan bahwa teater kerap menjadi sasaran tembak alias kambing hitam. Imbas stigma buruk itu pernah dirasakan oleh sahabat penulis, yaitu M. Ali Nafia (Ali 13) yang merupakan salah seorang teaterawan dari Komunitas Santri (Komsan) STAIN Pontianak . Ketika itu, ia bersama beberapa rekan, mengadakan sosialisasi sekaligus menjajaki kemungkinan pembentukan sanggar teater pada salah satu SMA Negeri di Kota Pontianak . Niat yang melandasi kedatangan mereka di antaranya adalah itikad untuk mengembangkan dunia teater Pontianak , serta menyalurkan bakat dan minat siswa-siswa di sekolah tersebut. Kedatangan mereka disambut baik oleh petinggi sekolah. Setelah bertukar salam, berbincang ringan dan presentasi, maka terjadilah dialog. Singkat cerita, selain memutuskan untuk tidak mengadakan ekstrakurikuler teater pada institusi pendidikan yang dipimpinnya, Sang Decission Maker tertinggi sekolah tersebut juga menutup pembicaraan dengan kalimat: “Maaf, Dik. Kalau mau cari uang kecil, jangan di sini dan dengan cara seperti ini.”
Luar biasa, bukan? Betapa niat untuk membentuk sanggar teater sekolah dianggap setara dengan upaya mencari uang kecil alias mengemis! (Dalam hal ini, penulis angkat topi untuk semangat baja Ali 13 dan rekan yang tetap giat berteater dan mengadakan sosialisasi pada sekolah-sekolah lain. Salut!). Saat pertama mendengar kisah tersebut, penulis memberi sedikit komentar bahwa kemungkinan besar beliau sedang khilaf dan lupa-lupa ingat sekurang-kurangnya terhadap dua hal, yaitu tentang posisi dan fungsinya selaku pendidik yang salah satunya adalah keteladanan, serta tentang Taksonomi Blooms. Blooms, seorang pakar Paedegogik dunia, mengemukakan bahwa proses pembelajaran harus mencakup tiga ranah kemampuan pebelajar, yaitu kognitif (pengetahuan/akal), afektif (perasaan/sikap) dan psikomotorik (kontrol jasmani).
Dikaitkan dengan teater sekolah, selain sebagai media penyaluran minat bakat siswa, serta sebagai kawah Chandradimuka pembentukan kepribadian (Character Buildings), proses latihan teater yang kompleks, nyata-nyata selaras dengan Taksonomi Blooms. Simak saja contoh-contoh dalam latihan-latihan dasar yang berkenaan dengan pengembangan kemampuan Kognitif, mulai dari reading, menghafal naskah, dan lain sebagainya sampai kepada kemampuan bedah naskah dan analisis pemeranan. Berkenan dengan kemampuan Afektif, mulai dari prev, olah rasa, kontemplasi, observasi dan lain sebagainya sampai kepada kemampuan menghayati tokoh cerita dalam naskah. Demikian pula halnya kemampaun Psikomotorik, mulai dari pemanasan, olah tubuh, olah vokal, mimik, pose, gesture, pantomime, moving, grouping dan lain sebagainya sampai kepada blocking pementasan. Sementara itu, dari sisi produksi, kemampuan menejerial, kerjasama tim, beserta lika-liku penyelenggaraan pementasan, adalah laboratorium lengkap bagi pengembangan nilai-nilai moral, mental, spiritual dan intelektual siswa.
Dugaaan penulis tentang beliau yang sedikit lupa-lupa ingat tentang Taksonomi Blooms, di kemudian hari ternyata benar. Buktinya, pihak sekolah yang bersangkutan akhirnya meminta bantuan kepada salah seorang pengurus Sanggar Pituah Enggang (Pitung) untuk membentuk sanggar teater. Mengetahui hal tersebut, penulis tersenyum dan geleng-geleng kepala. Satu lagi peristiwa aneh tapi nyata terjadi di bumi Kalbar, karena setahu penulis, salah satu pihak yang membina Pitung adalah Komsan.
“Maaf , Pak. Sudah punya uang kecil, ya?”
Salam Budaya!
Penulis adalah peminat masalah sosial dan seni budaya.
Cerpenis, anggota Komunitas Seni Jalan Lain (KSJL)
STKIP PGRI Pontianak
amrin_zr@yahoo.co.id
Langganan:
Postingan (Atom)

