13/10/08

APARAT

Oleh: Amrin. Z. R.

Awalnya, saat mendengar abangnya akan mendaftar menjadi anggota polisi, Anwar gembira bukan kepalang. Betapa tidak. Sekiranya nanti sang abang, Ahmad Dani, benar-benar menjadi polisi, tentu bukan hanya kebanggan bagi dirinya, Apak, Umak serta Aneng[1] saja, melainkan kebanggan juga bagi seluruh sanak-menyadik[2] di kampung. Baik itu sanak-menyadik dari kampung Apaknya berasal, yang berada di hulu ibukota kabupaten, maupun dari kampung Umaknya yang terletak di hilir.

Kebanggan Anwar bukan tanpa alasan. Sebab, sejauh pengetahuannya, sebagaimana yang ia dapat dari Apak maupun paman-paman, belum satu orang pun keluarga besarnya ada yang menjadi polisi, aparat penegak hukum, manusia mulia penjaga ketertiban masyarakat. Bahkan, jangankan keluarga besarnya, untuk ukuran ibukota kabupaten, tempat mereka sekarang tinggal, penduduk asli yang menjadi polisi masih dapat dihitung dengan jari.
Dulu, ditahun-tahun terakhirnya di Sekolah Dasar, Anwar pernah bertanya pada gurunya tentang fenomena tersebut. Kenapa sedikit sekali orang kita yang menjadi polisi? Menjadi tentara? Menjadi pejabat? Kenapa kebanyakan justru berasal dari luar pulau? Anwar masih ingat betul betapa hati-hatinya sang guru menjawab.

“Inilah Nasionalisme!” kata sang guru. Ditambahkan pula penjelasan bahwa ada yang berhasil dalam kariernya, namun bertugas di wilayah lain Indonesia . Begitu pula dengan beliau-beliau yang bertugas di sini. Mereka adalah orang-orang terbaik dari wilayah lain Indonesia . Penempatan tugas seperti ini bertujuan untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.

Bagaimana Anwar mendengarnya? Ia manggut-manggut. Meskipun dikemudian hari, tepatnya tahun lalu, ia mendengar penjelasan yang agak berbeda dari Cu[3] Taufik, adik bungsu Umaknya, ia tetap percaya pada penjelasan gurunya.
Tahun lalu itu, saat ia masih kelas 1 SMA, Cu Taufik menjelaskan panjang lebar mengenai dominasi kebudayaan. Pamannya yang masih kuliah di tingkat akhir di ibukota propinsi, yang tas dan jaketnya ada gambar Che[4], bertanya: “Apakah ada jepin dan kondan [5]kita yang ditayangkan rutin oleh televisi nasional?”

Walaupun pembicaraannya bersama sang paman tak sepenuhnya ia mengerti, apalagi penjelasan-penjelasan yang sarat istilah akademis, namun seiring berjalannya waktu, pelan-pelan ia menyadari bahwa untuk orang-orang sepertinya, seperti keluarganya, seperti orang-orang di kampungnya, di kotanya, di daerahnya, jika ingin menjadi polisi, tentara ataupun pejabat, tetaplah tidak mudah.

Berarti, apa yang disampaikan sang paman tidak sepenuhnya keliru bahwa di negeri yang konon gemah ripah loh jinawi ini, diam-diam telah terjadi dominasi kebudayaan.
Namun hati kecilnya berontak. Indonesia yang aku tahu tidaklah seperti itu. Indonesia adalah Indonesia , negara yang memperkenankan siapa saja warganya menggapai cita-cita untuk berbakti dan mengabdi. Apakah untuk orang seperti aku, sebagaimana nenek yang menjadi tabib di kampun sana , tidak boleh menjadi dokter untuk Indonesia ? Apakah untuk orang seperti abangku, tidak boleh mewujudkan cita-citanya menjadi polisi? Apakah untuk orang seperti adik perempuanku, tidak boleh menjadi presiden? Apakah untuk orang seperti pamanku tidak boleh menjadi negarawan? Apakah untuk orang seperti Afuk, sahabatku, tidak boleh menjadi pegawai negeri?

Pertanyaan demi pertanyaan yang beranak pinak dalam benaknya, menghantuinya saban malam setiap menjelang tidur. Jadi wajar, ketika tahu abangnya berkesempatan menggapai cita-cita yang sulit itu, ia seakan setengah gila karenanya. Pada sahabat-sahabatnya ia menceritakan dengan kebanggaan yang membuncah di dada. Sahabat-sahabatnya setuju bahwa abangnya memang layak menjadi polisi. Sudah postur tubuhnya atletis (beda dengan dirinya yang agak kerempeng), pintar lagi. Sahabat-sahabatnya kerap meminta bantuan abangnya menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang rumit, baik eksak maupun noneksak. Bahkan ia tahu, diam-diam banyak kawan sekolahnya, terutama yang perempuan, mengidolakan abangnya. Sebagai adik, ia kecipratan keberuntungan. Begini, hampir setiap hari ia ditraktir fans-fans abangnya itu. Tugasnya sederhana. Menjawab pertanyaan mereka seputar sang abang. Apakah masih jomblo? Bagaimana sih kepribadiannya? Kalau di rumah bagaimana sih orangnya? Cewek seperti apa yang diidamkannya? Apakah di antara mereka ada yang memenuhi syarat? De el el sampai perkara remeh-temeh pun ditanyakan. Misalnya apakah abangnya kalau tidur memakai kaus kaki?

Pada guru-gurunya pun ia ceritakan. Tentu sebatas pemberitahuan. Semua guru, kecuali guru baru, masih mengenal abangnya. Dan beliau-beliau sangat mendukung serta turut menyemangati. Soalnya saat abangnya masih bersekolah di situ, ia adalah sedikit di antara siswa yang berprestasi dan mampu mengharumkan nama sekolah.
Pada sang paman, Cu Taufik, ia tambahkan penjelasan tentang Indonesia yang kini berubah, tidak lagi sentralistik tapi otonomi daerah. Pengetahuan ini jelas ia dapat dari bangku sekolah serta berkat membaca koran dan menonton berita di televisi. Tapi sang paman malah nyengir. Otonomi? Ini namanya otonomi setengah hati. Dan tahukah kau bahwa propinsi kita ini dulunya menyandang status istimewa? Kenapa status itu dicabut? Apakah hal ini dipelajari di sekolahmu?

Seperti biasanya, saat bicara dengan pamannya, ia kerap penasaran. Menggelitik rasa ingin tahunya. Pada akhirnya sang paman mendoakan, semoga ponakannya yang tertua, Ahmad Dani, menjadi aparat negara tidak dengan cara-cara yang tidak benar. Dengan menyogok misalnya. Karena menurut pandangan pamannya, negara Indonesia yang sesungguhnya berpotensi menjadi negara besar, tapi tetap tidak bisa seperti sekarang, salah satu penyebabnya adalah kebiasaan menyogok itu. Bayangkan, Anwar, kata pamannya. Semisalnya engkau atau siapapun warga negara ini yang hendak menjadi abdi negara, untuk dapat mencapai posisi itu harus menempuh jalan menyogok, yang tentunya bukan cuma sejuta dua juta, ketika pun pada akhirnya ketika diterima, tidak dapat total menjalankan profesionalisme, melainkan dihabiskan dengan pikiran bagaimana caranya mengembalikan investasi sogokan itu. Ini sudah menjadi rahasia umum, Anwar, kata pamannya lagi. Namun apa yang akan terjadi, jika seluruh masyarakat memaklumi saja dan menganggapnya sebagai kewajaran hidup? Akan jadi apa Indonesia kita? Jika terus begini, sejak sekarang kita dapat menghitung dengan jari berapa lama lagi umur negeri yang kita cintai ini.

Mengerikan juga pandangan pamannya itu. Tapi benar. Sekiranya keadaan belum berubah, Indonesia akan rapuh. Mudah dihancurkan dari luar maupun dari dalam. Namun Anwar meyakini, dirinya, keluarganya bukan orang-orang yang seperti itu, yang hanya mementingkan diri sendiri. Sebab ia tahu, Apaknya adalah orang yang taat beragama, jujur dan keras hati. Tentu tidak akan menempuh jalan seperti itu, semata agar anaknya bisa menjadi polisi.

-oOo-

Namun sekarang, hari ini, saat diadakan syukuran atas pelantikan sang abang, dirinya tak lagi sebangga dulu. Keluarga, tetangga dan kenalan yang ramai datang ke rumahnya hanya ia sambut dengan senyum tenang. Padahal hatinya bergemuruh. Ia tidak pernah menceritakan dengan siapapun perkara prahara dalam benaknya. Termasuk pada pacarnya, Tyana.

Selama berbulan-bulan, semenjak keluarganya sibuk dengan urusan pendaftaran sampai pada masa-masa abangnya menjalani pendidikan, ia menyimpan kecamuk itu hati-hati dalam hati. Rapat-rapat. Untuknya sendiri. Ia tidak ingin satu orang pun di dunia ini tahu, bahwa salah seorang paman jauhnya, sepupu Umak, beberapa kali secara diam-diam mendatangi Apaknya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kedatangan paman jauhnya itu. Baik sesekali ataupun sering-sering, tak masalah. Namanya saja keluarga. Namun yang membuat Anwar risau, perlakuan yang ia terima dari Apak, Umak dan Abangnya ketika ia bertanya tentang maksud kedatangan pamannya yang berbadan kurus itu. Tidak ada yang mau memberikan penjelasan gamblang. Semuanya terkesan menutup-nutupi. Padahal ia tahu bahwa banyak orang tahu selain sebagi pegawai negeri, profesi sampingan paman jauhnya adalah Bank Empat Tujuh[6]. Apakah ada yang ditutup-tutupi mereka?

Ia khawatir, orang tuanya menggunakan jasa Bank Empat Tujuh itu. Khawatir itu semakin mengkristal menjadi kecurigaan dan kecurigaan itu semakin kuat ketika ia mendapat jawaban dari Apak, Umak maupun paman jauhnya itu: “Nuar, ini urusan orang dewasa.”
Baiklah. Dengan hati remuk redam ia menanggung sendiri kecurigaan itu, memikul sendiri kemungkinan bahwa abangnya menggapai cita-cita dengan jalan yang tidak benar, jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang mengkeroposkan negeri ini. Aneh juga, pikirnya. Kenapa ketika orang lain melakukan hal tersebut, ia merasa marah bukan main. Tapi ketika hal tersebut dilakukan oleh keluarga sendiri, kenapa semacam ada pemakluman, bahkan dibuatkan acara syukuran seperti ini pun hatinya mencoba berdamai. Padahal kalau dipikir-pikir, tujuan acara yang semula bersyukur atas ridho Sang Khalik, sebenarnya adalah upaya memperolok kebesaran-Nya. Betapa tidak, bukankah acara seperti ini adalah syukur dan terima kasih karena Sang Khalik karena mengizinkan keluarganya menempun jalan-jalan yang tidak benar?

Anwar tersenyum-senyum sendiri memikirkan kontradiksi itu. Keluarganya memperolok Tuhan? Hatinya berdenyar. Pilu. Inikah kedewasaan? Hatinya berdenyar lebih kencang. Seiring lantunan ayat-ayat suci dari hadirin, denyar di hatinya semakin kuat. Semakin kuat. Semakin kuat. Tubuhnya bergetar. Dadanya mengembang dan mengempis dengan cepat. Ketika lantunan ayat-ayat itu selesai, ia melihat Apaknya beringsut dan permisi pada hadirin menuju ke arah dapur.

Entah kekuatan darimana yang mendorong Anwar untuk bangkit menyusul. Teguran dari beberapa orang yang berpapasan dengannya tak ia hiraukan. Ia terus menyusul Apaknya. Ia melihat Apak dan Umaknya sedang duduk di salah satu sudut dapur. Berbisik-bisik sambil mengawasi hidangan yang akan dihantar pemuda-pemuda, termasuk beberapa sepupunya, ke ruang tamu.

Degup jantungnya semakin menjadi. Namun ia kuatkan hati menghampiri kedua orang tuanya. Mereka tampak kaget. Umaknya yang langsung bertanya apakah dirinya sedang sakit. Ia menggeleng. Ketika benar-benar sudah dekat, ia bertanya pelan dengan suara bergetar dugaan-dugaan yang ada dihatinya. Ia menegaskan bahwa dirinya sudah besar. Sudah belajar sedikit banyak tentang hidup. Anehnya, kedua orang tuanya justru saling pandang dan tersenyum.

“Kau masih ingat, Anwar,” kata Apaknya, “ tentang bagaimana pendapat Apak mengenai hal itu?”

Anwar mengangguk pasti. “Kata Apak. Apak tidak akan membiarkan anak istrinya, keturunannya hidup dengan jalan yang tidak benar seperti itu.”

“Lantas, apakah menurutmu sekarang Apak sudah berubah, membiarkan abangmu menjadi polisi dengan jalan menyogok?”

Anwar menggeleng resah. Ia kemudian bertanya perihal paman jauhnya yang beberapa kali datang ke rumah. Tapi Apak dan Umaknya bukan lagi tersenyum, tapi tertawa kecil.

“Anwar…Anwar…” kata Umaknya, “jadi selama ini dirimu curiga kalau Apakmu meminjam uang dari pamanmu itu?”

Lagi-lagi mereka tertawa kecil. Namun, demi melihat raut muka anak nomor duanya yang terheran-heran, mereka kemudian menjelaskan bahwa kecurigaan Anwar itu tidak benar. Abangnya menjadi polisi dengan cara bersih. Perihal paman jauhnya, justru paman jauhnya itulah yang terus menerus berupaya meminjam uang karena usaha sampingannya di tipu orang.

Mendengar penjelasan itu, tiba-tiba saja Anwar menyalami kedua orang tuanya dengan takzim seraya meminta maaf. Setelah itu ia kemudian bangkit, setengah berlari menuju ruang tamu. Mencari abangnya, kemudian memeluknya kuat-kuat seraya berbisik :” Anwar bangga pada Abang!”
Abangnya dan semua hadirin terheran-heran.

-oOo-
Kota Hantu, 16 Juni 2007



[1] Dalam bahasa Melayu Sanggau, Kalimantan Barat, Apak adalah Bapak/ Ayah; Umak adalah Ibu; Aneng adalah nama panggilan untuk adik, biasanya adik perempuan.
[2] Sanak-menyadik adalah kaum kerabat, handai taulan.
[3] Cu atau Ucu adalah sebutan kesopanan bahasa kepada paman atau bibi bungsu.
[4] Che Guavara, tokoh revolusioner Amerika Latin. Ikon dirinya kerap dijadikan lambang bagi pemuda dan mahasiswa pergerakan.
[5] Jepin adalah tarian tradisional Melayu dan Kondan adalah tarian tradisional Dayak.
[6] Bank Empat Tujuh, gelar lain untuk rentenir. Misalnya meminjam uang empat juta rupiah, mengembalikan tujuh tujuh juta rupiah.




Resensi Buku: "Ga' Tau Neeh...!!!", karya Isma Resti Pratiwi

Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah

Dunia perbukuan di Kalbar, khususnya Pontianak semakin marak. Kemunculan buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit independen dalam beberapa tahun terakhir, layak untuk diapresiasi. Demikian pula denganconten -nya (rata-rata karya sastra), serta penulis-penulisnya yang jelas-jelas made in West Borneo.

Tentu saja harapan kita semua bahwa perkembangan positif ini tidak menjadi fenomena sesaat belaka. Karena sebagaimana dibuktikan oleh sejarah, masyarakat yang maju adalah masyarakat yang menghargai seni budaya, baik karya maupun pelakunya. Dengan demikian, bila kita menginginkan terwujudnya suatu tatanan masyarakat yang maju, hendaknya kita mulai belajar merawat dan mengembangkan "pertanda-pertanda" kemajuan yang telah ada, termasuk perkembangan dunia buku di Kalimantan Barat.

Semua buku yang diterbitkan penerbit-penerbit independen memiliki kekuatan khas. Salah satunya adalah buku "Ga' Tau Neeh...!!!" (GTN). Novel setebal 190 halaman (9x18cm) ini diterbitkan Kitara Creativision yang bermarkas di Jl. Tabrani Ahmad, Gg. Setara 1, Pontianak. Catatan istimewa pertama adalah bahwa penulis GTN ini masih duduk di kelas VIII, Madrasah Tsanawiyah 1 Pontianak. Ketika larut pada lembar-lembar pertama, yang mengisahkan "kerja bakti" pada suatu pagi di sebuah kelas, kita akan terperanjat. Bukan pada istilah kerja bakti itu sendiri yang berarti nyontek bareng, melainkan karena kelas yang dideskripsikan dengan "sedemikian cantik" adalah sebuah kelas XII sekolah menengah atas. Sampai di sini saja kita sudah acungkan dua jempol. Jempol pertama untuk kemampuan deskripsi yang "cantik". Sedangkan jempol kedua untuk kemampuan observasi "fisik-batiniah" penulis. Maksudnya, penulis mampu menangkap dan menerjemahkan situasi SMA, sedangkan si penulisnya itu sendiri masih SMP. Kemampuan ini jelas merupakan aset berharga Isma selaku penulis.

Sementara itu, perwatakan tokoh-tokohnya sangat hidup. Avel yang menjadi tokoh utama, bener-bener ngegemesin. Cakep, cuek, rada ceriwis dan sukses ditampilkan sebagai Ratu Kelas. Para "figuran" pun tampil dengan keunikan masing-masing. Ada Abe yang baik hati, ada Nicko yang playboy, ada Ndut yang suka makan, ada yang bolot, yang suka ngegosip, ada yang sok seleb, dan lain-lain. Mereka-mereka ini kawan sekolahnya Avel.

Sedangkan para guru dilukiskan dengan "kacamata" yang pure sudut pandang siswa. Ini menarik. Apalagi jika dikaitkan dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Gelar-gelar khusus kepada guru-guru tertentu yang diberikan siswa, seperti dalam novel GTN, hendaknya dilihat dengan frame tepat. Ini bukan hanya terjadi dalam cerita fiksi, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Gelar-gelar itu bukan bermaksud menghina atau merendahkan martabat pribadi dan profesionalisme sang guru, melainkan suatu bentuk komunikasi sosial komunal antar siswa. Komunikasi komunal ini tidak hanya terbatas dipahami sebagai "saluran" uneg-uneg belaka, tetapi juga mengindiksikan terdapatnya barrier atau penghalang antara siswa dan guru. Artinya, siswa sebagai pebelajar (meskipun kurikulum katanya berganti!) tetap diposisikan sebagai objek belaka. Feedback dari si pebelajar semata berupa nilai-nilai kuantitatif hasil pe-er, ulangan, ujian dlsb. Pebelajar tidak mendapat hak belajar sesuai keinginan dan porsi intelektualismenya. Hal ini disebabkan sistem pendidikan dirancang dan dilaksanakan dengan keyakinan bahwa hal yang sedemikian itulah yang "baik dan benar" untuk siswa.

Cara pandang tersebut analog dengan istilah "Mata Elang"-nya Muhammad Yunus, peraih nobel dari Bangladesh, dalam melukiskan cara kerja ekonom dunia tentang program terbaik bagaimana mengatasi kemiskinan di negara-negara dunia ketiga. Para ekonom dunia ini, menurut M. Yunus, ibarat elang yang berputar-putar di angkasa mencermati hamparan kemiskinan. Lantas, setelah mengamati dari angkasa, ekonom-ekonom ber-"mata elang" ini kemudian menyusun serangkaian program pengentasan kemiskinan. Selanjutnya, bagai peri turun dari kayangan, ekonom-ekonom itu memercikkan program-programnya di wilayah kemiskinan.

Andai saja hidup ini semudah sulap yang ditawarkan "peri-peri ekonom ber-mata elang", tentu kantong-kantong kemiskinan di seluruh penjuru bumi gampang dientaskan. Ternyata, program-program dari "angkasa" itu tak mampu mengatasi masalah. M. Yunus kemudian merombak cara pandangnya dengan pendekatan "mata cacing". Artinya, sebagai ekonom yang belajar di pusat-pusat peradaban dunia, ia harus mencampakkan "mata elangnya" dengan terjun langsung di kantong-kantong kemiskinan. Program-programnya menjadi nyata karena bersentuhan langsung dengan kebutuhan rakyat miskin.

Demikianlah, penceritaan Isma dalam GTN dengan berani mengabarkan pada dunia tentang kesombongan orang-orang yang menyebut diri sebagai pakar pendidikan. Ternyata postulat-postulat paedagogik-nya tak ubahnya "mata elang". Mudah-mudahan, para pakar pendidikan yang sedang mengangkasa itu, mau menyempatkan diri singgah di sebatang pohon dan membaca GTN. (Yuk, doa bareng-bareng...!)

Namun GTN sebagai sebuah cerita, terdapat di dalamnya sejumlah perkara kecil yang menurut hemat saya, patut disayangkan. Misalnya pada teknik solusi dan resolusi yang pada beberapa bagian melemahkan bangunan cerita yang sebelumnya sudah disusun kuat. Misalnya pada bagian Pak Beo yang akan memberikan hukuman pada hari Jumat. Motif tiap pelaku logis. Deskripsi sangat apik membangun konflik. Suspens-nya keren. Sayangnya, ketika sampai di titik menentukan, Pak Beo-nya tiba-tiba saja membatalkan hukumannya dengan alasan moodnya lagi hepi. Tanpa maksud men-justifikasi, penyelesaian seperti ini terkesan terlalu digampang-gampangkan. Sayang sekali, bukan? Padahal dengan nafas batin dan nafas imajinya, seandainya Isma mau meluangkan sedikit waktu untuk menangani perkara remeh ini, kita percaya bahwa GTN akan semakin "berwibawa".

Meski demikian, GTN tetap menggigit dengan plot "besar"-nya yang memelihara keingintahuan pembaca untuk terus melahap baris demi baris, alinea demi alinea, bab demi bab sampai selesai. Untuk pelajar, GTN jelas gue banget!. Untuk ortu, guru (plus calon guru), GTN sangat informatif sebagai sarana membaca ulang hubungan mileau pendidikan. Untuk pakar pendidikan: "Sudikah sekiranya Paduka berhenti sejanak mengangkasa?". Untuk masyarakat umum, Pontianak dan Kalbar, GTN dan penulisnya jelas merupakan aset dalam menyongsong Generasi Emas Kalimantan Barat.

Terakhir, kepada mereka-mereka yang sudah memiliki dan membaca GTN, mudah-mudahan ada pihak yang mau mengadakan bedah buku. Sehingga kita bisa saling tukar pikiran. Sedangkan kepada yang belum memiliki dan membaca Ga' Tau Neeh...!, apakah ga' nyesel neeh...?!

Salam Perubahan Menuju Kebaikan!

DICARI: NEGARA DAN PEMERINTAH

Oleh: Amrin Zuraidi Rawnsyah

Para Pendiri Bangsa (Founding Fathers) yang visioner telah mengamanatkan bahwa salah satu tujuan berdirinya republik ini adalah "memajukan kesejahteraan umum" bagi seluruh rakyat dan tumpah darah Indonesia. Hal ini sejalan dengan pandangan banyak Teori Negara bahwasanya kesejahteraan bagi rakyat merupakan prioritas utama adanya suatu negara.

Namun dalam konteks kekinian dan ke-Indonesia-an, tanpa perlu menjulurkan kepala tinggi-tinggi untuk melihat tempat yang jauh-jauh (jika dikaitkan dengan Evolusi-nya Darwin, bisa-bisa akan jadi jerapah(?)), cukup dengan melihat sekeliling, kita akan mengetahui betapa cita-cita mulia Indonesia ber-negara menjadi semacam utopia belaka. Lihat saja fasilitas publik, jalan misalnya, banyak lubang yang jika diperbaiki pun polanya tambal sulam. Seorang rekan penulis yang merupakan penulis di negeri jiran pernah dengan nada membanyol memberikan komentar. Katanya, ia bisa membedakan apakah masih berada di negaranya ataukah sudah masuk wilayah Indon saat berada di dalam bus. Jika saya tertidur, katanya, ia masih di negaranya. Namun ia segera tahu bahwa dirinya sudah masuk negara yang konon gemah ripah loh jinawi ini jika dirinya terbangun oleh ban bus yang terantuk lobang. Duh, betapa marwah sebagai anak bangsa tersayat oleh joke yang sungguh-sungguh nyata itu. Dengan senyum yang tak sempurna, penulis tinggal berkomentar: "Rights or Wrongs, it is My Country!"

Untunglah (untung terus!) si sahabat dari jiran itu belum mengunjungi wilayah lain di propinsi yang pernah mengenyam status Daerah Istimewa ini, yang akses jalannya jauh lebih "indah". Misalnya di perhuluan Kapuas ataupun perhuluan Ketapang. Penulis yang dalam beberapa tahun terakhir, untuk urusan keluarga, sering berkunjung ke wilayah perhuluan Ketapang, merasakan betapa "dahsyatnya" layanan republik ini kepada warga negaranya dalam aspek infrastruktur jalan. Terutama ruas Siduk-Sungai Kelik yang notabene merupakan jalan propinsi. Medannya, barangkali, sangat dicintai para off roader sejati. Aspal yang terkelupas, berbatu, tanah liat, berlubang dan sebagainya.

Musim kemarau, laju kendara mengakibatkan jalanan berdebu. Daun-daun pohon yang pada beberapa bagian masih menjulang, berubah menjadi daun-daun tambaga. Sedangkan dimusim penghujan, lubang-lubang jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang siap "menelan" pengendara yang tak mahir dan kurang awas. Kondisi ini bagi sebagian masyarakat merupakan ladang rezeki. Misalnya jasa pencucian motor dan mobil yang tumbuh bagai jamur dimusim penghujan di daerah Siduk dan sekitarnya. Bagi sebagian masyarakat yang lain, memperbaiki jalan yang hancur berantakan dapat dijdikan lahan bisnis. Caranya, masyarakat bergotong royong membuat jembatan atau membuatkan jalan alternatif, lantas bagi pengendara akan dikenakan tarif tertentu jika ingin lewat. Hal ini lazim disebut meting atau meteng. Sepeda motor yang melewati meting dikenakan tarif seribu rupiah. Mobil biasanya lima atau sepuluh ribu rupiah. Sedangkan truk bermuatan dikenakan tarif yang lebih tinggi.

Bagi sebagian pengguna jalan, hal ini dianggap lumrah. Karena perbaikan jalan membutuhkan modal tenaga, waktu dan biaya, jadi wajar jika orang-orang yang memperbaiki jalan memungut bayaran. Namun, bagi sebagian yang lain, kondisi ini adalah "hil yang mustahal" terjadi di sebuah negara yang konon berdasarkan Pancasila dengan semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan di dalamnya. Sebagian pengguna jalan yang lain mencoba arif. Wajar tidaknya suatu meting bersifat kasuistik. Jika kondisi jalan benar-benar hancur berantakan dan dibuatkan jalan alternatif, maka wajar para pembuatnya mendapat reward. "Anggap saja jalan tol," ujar seorang kawan. Ketika disusul dengan pertanyaan tentang perizinan dan transparansi pungutan, kawan tersebut berkomentar: "Di negara yang serba maklum ini, ya, maklum-maklum sajalah."

Namun kasusnya berbeda jika perbaikan itu dilakukan pada badan jalan yang
sudah dibangun pemerintah. Logikanya, kerusakan jalan tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini propinsi dan pusat. Jika pun ada perbaikan oleh masyarakat, maka dalam perspektif nilai-nilai ketimuran, agama dan PPKn yang diajarkan di sekolah-sekolah, maka perbaikan itu merupakan kegiatan gotong royong demi kepentingan bersama. Jika sudah begini keadaanya, dalam hati kita akan bertanya: Di mana nilai-nilai ketimuran yang diagung-agungkan itu? Di mana nilai-nilai agama yang disemai para pemuka agama? Di mana nilai-nilai PPKn yang konon merupakan mata pelajaran wajib di setiap jalur, jenjang dan tingkat pendidikan di tanah air kita?

Penulis sepakat bahwa persoalan infrastruktur jalan dan mental meting merupakan sesuatu yang bersifat kompleks. Mulai dari sistem kenegaraan dan pemerintahan, supermasi hukum, otonomi daerah yang setengah hati, tatanan masyarakat yang berubah seiring gerak dinamis peradaban mundial, sampai pada persoalan teknis lapangan misalnya dugaan korupsi setiap pengerjan proyek dan over dosis-nya muatan kendaraan.

Hanya saja, sebagai warga sah dari sebuah negara bernama Indonesia, yang menurut sejarawan Muhammad Yamin, merupakan proyek besar Nusantara III (setelah Sriwijaya dan Majapahit), kita akan mengajukan banyak pertanyaan: "Di mana sih sesuatu bernama negara dan pemerintah itu ketika warganya terjebak kubangan lumpur?"

Siduk-Sandai, Medio Desember 2007
Amrin Zuraidi Rawansyah

PILKADA DAN KEBENARAN YANG GAMANG

Oleh: Amrin ZR

Dalam upaya mewujudkan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan dalam suatu masyarakat, pemimpin memegang peranan yang sangat penting. Demikian pula halnya dengan masyarakat Kalimantan Barat, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan berlangsung dalam tahun 2007 ini, merupakan peristiwa bersejarah untuk menentukan siapakah sesungguhnya pemimpin yang akan membawa keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan.
Menjelang detik-detik yang sangat menentukan tersebut, konstelasi politik mulai menghangat. Isu-isu politik secara perlahan mengisi ranah komunikasi lisan. Mulai dari pembicaraan bisik-bisik kamar tidur, obrolan hangat ruang tamu, teras, warung kopi, demonstrasi dan lain-lain, sampai pada debat argumen canggih dalam ruang-ruang seminar. Dalam ranah komunikasi tulisan, pesan-pesan politik secara terselubung maupun blak-blakan ditanam, mulai dari SMS, kartu nama, kalender, pojok koran, spanduk dan lain-lain sampai pada baliho-baliho di pingir-pinggir jalan.
Atas nama pendidikan politik, gambaran di atas dapat disebut sebagai upaya sang tokoh yang didampingi sekelompok think tank untuk merebut hati para konstituen. Terkadang, isu yang dipakai bersifat tunggal, yaitu semata puja-puji terhadap kehebatan sang tokoh atau sebaliknya hanya menyerang tokoh-tokoh kompetitor yang lain. Di kadang yang lain, isu yang digunakan adalah racikan yang menggabungkan antara unsur puja-puji yang tak peduli dianggap narsis dan sekaligus serangan terhadap kompetitor. Aspek lainnya adalah subyek, suatu ketika sang tokoh itu sendiri yang menjadi pelaku, di ketika yang lain sang tokoh “meminjam” mulut orang lain.
Dalam beberapa waktu terakhir, isu yang berkembang adalah dugaan korupsi yang disematkan pada tokoh-tokoh kontestan calon gubernur dan calon wakil gubernur. Pemuda dan mahasiswa bersikap, mulai dari gerakan soft yang hanya menuntut para aparatur hukum untuk tidak impoten dalam mengusut kasus dugaan korupsi “orang-orang kuat” tersebut, sampai pada gerakan hard yang dengan lantang berteriak agar Pilkada ditunda.
Para praktisi dan akademisi pun angkat bicara. Kata mereka, para kontestan tetap memiliki hak untuk melaju dalam bursa pemilihan kepala daerah, karena isu korupsi tersebut masih dugaan, belum terbukti di pengadilan dan belum memiliki kekuatan hukum yang bersifat mengikat. Kata mereka pula, Pilkada tak mungkin ditunda. Sebab sesuai undang-undang yang berlaku di republik yang konon bercita-cita menuju suatu “masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera” ini, Pilkada baru dapat ditunda jika terjadi bencana alam dan kerusuhan. Bahkan antitesis yang paling sangar adalah tanggapan, sebagaimana dilansir di beberapa media lokal, yang mengatakan bahwa belum ada sejarah pilkada ditunda hanya karena tuntutan mahasiswa.
Gambaran kontradiksi antara harapan (das sein) tentang sosok pemimpin yang mampu membawa masyarakatnya menuju cita-cita bersama dan kenyataan (das sollen) tentang isu korupsi para kandidat cagub, melahirkan banyak pertanyaan. Tanpa mengabaikan kata-kata tanya yang lain yang kerap digunakan kaum asketis (apa, siapa, kenapa, bagaimana, di mana dan kapan), cukup dengan kata tanya “apa” dan “kenapa”, kita sudah menemukan lumayan banyak varian pertanyaan terhadap kontradiksi di atas. Dua di antaranya adalah: pertama, apakah para kandidat cagub Kalbar benar-benar korupsi?; dan kedua, kenapa isu korupsi menerpa para kandidat cagub Kalbar?
Untuk pertanyaan pertama, yang paling berhak menjawabnya adalah aparat penegak hukum dan para kandidat itu sendiri. Dalam masa pasca reformasi yang salah satu konsekuensinya adalah melemahnya kepercayaan terhadap fungsi dan proses penegakan hukum di tanah air, peran lembaga-lembaga yang berkompeten (kepolisian, kejaksaan dan kehakiman) benar-benar diuji. Sejauh mana ketangguhan masing-masing lembaga menyikapi masalah sesuai status dan fungsinya. Dalam hal ini, pengerahan dan pengelolaan seluruh sumber daya yang dimiliki setiap lembaga harus didukung itikad manusia-manusia yang ada di dalamnya. Jika tidak, harapan perbaikan arah perjalanan kebangsaan dan kenegaraan bertitel Indonesia , hanya akan menjadi impian kosong semata.
Sedangkan untuk pertanyaan kedua, banyak kemungkinan jawaban yang tersedia. Bisa obyektif, bisa subyektif. Misalnya, beliau-beliau itu memang benar-benar bersalah. Lantas, ketika orang-orang yang tahu kebenaran dan duduk perkaranya mencoba mengungkapkan, ternyata terkendala masalah kapasitas sekaligus power yang dimiliki beliau-beliau tersebut. Akhirnya, mereka hanya bisa bisik-bisik dari satu telinga ke telinga yang lain. Misalnya pula, isu tersebut dilontarkan ke khalayak oleh para kompetitor. Misal yang lain, pelakunya adalah barisan orang-orang sakit hati, orang iseng atau barangkali oleh orang gila. Misal yang lainnya lagi, hal tersebut adalah jangan-jangan justru merupakan rekayasa yang bersangkutan. Motifnya bisa jadi adalah upaya untuk mempertahankan popularitas. Tokh, jika ada pihak-pihak yang coba mengusik, jawabannya gampang: “Sekiranya saya bersalah, buktikan.”
Bisa jadi pula, yang bersangkutan menganut prinsip jagoan yang selalu kalah di adegan-adegan awal. Menjelang akhir cerita, sang jagoan mengeluarkan jurus-jurus pamungkas untuk mengalahkan lawan-lawannya. Maksudnya, pencitraan sebagai subjek penderita memang disengaja untuk menarik simpati sekaligus memperlama efek “dikenal” dalam benak orang banyak. Sehingga, memperbesar kemungkinan dipilih jika waktunya tiba. Persoalan pembuktian diri tidak bersalah, demi lebih menarik simpati, bisa dilakukan all out menjelang detik-detik terakhir pertarungan.
Dugaan-dugaan, mulai dari yang masuk akal sampai pada yang suuzan sebagaimana yang penulis ungkapkan di atas, bukan mustahil akan semakin parah dan berpeluang menjadi picu kekisruhan di Bumi Khatulistiwa yang kita cintai ini. Sinyal warning-nya sudah tampak. Akademisi-akademisi sudah memperingatkan agar penanganan masalah kasus dugaan korupsi yang melibatkan para cagub, harus ditangani secara bijak. Misalnya hipotesis tentang akan bereaksinya massa basis masing-masing cagub, jika cagub jagoan mereka mulai diutak-atik oleh pasal-pasal hukum positif. Akademisi-akademisi pun mengingatkan tentang kesejarahan dan peluang konflik yang disebabkan oleh aspek multikultural yang ada di provinsi ini.
Menurut hemat penulis, jika kondisi di atas dibiarkan berlarut-larut, maka orientasi proses pendidikan politik yang berusaha mencerdaskan masyarakat berubah haluan menjadi upaya pembodohan. Betapa tidak, masyarkat disuguhi kegamangan kebenaran. Akibatnya, masyarakat menjadi rabun, penuh prasangka atau justru masa bodoh saat menentukan pilihan tentang siapa figur pemimpin di antara mereka yang paling layak. Dengan tipikal masyarakat pemilih seperti ini, kita patut mempertanyakan kualitas output Pilkada yang bukan hanya perkara “siapa” yang akan menjadi pemenang pemilihan, tetapi juga kemenangan bersama yang ditandai peningkatan kesadaran masyarakat dalam menggunakan hak-hak politiknya.
Sementara itu, dari seluruh teori kepemimpinan dan manajemen, mulai dari era baheula sampai era kesejagatan, dari pendekatan klasik tradisional sampai pada pendekatan dan trik-trik yang diajarkan para motivator kelas dunia dewasa ini, dari organisasi-organisasi yang memang bertujuan membentuk karakter (character buildings) sampai pada pribadi-pribadi sukses yang berangkat secara otodidak, pemahaman mendasar mengenai kepemimpinan sekurang-kurangnya memuat dua hal, yaitu keteladanan dan keunggulan. Lantas, dengan kegamangan kebenaran tentang isu korupsi, bagaimanakah sesungguhya keteladanan dan keunggulan pemimpin-pemimpin yang akan bertarung dalam pilkada nanti?
Dalam hal ini, penulis meyakini asas praduga tak bersalah serta menghormati Hak Asasi Manusia, termasuk kemerdekaan para kandidat Cagub memilih sikap saat dirinya diterpa isu korupsi. Akan tetapi, ketika pemilihan sikap itu berdampak luas dan mempengaruhi arah perjalanan tatanan sosial suatu masyarakat, kenapa pemimpin-peminpin yang sangat kita hormati tersebut tidak memperlihatkan itikad dan dan sikap elegan untuk menunjukan kebenaran tentang dugaan korupsi yang menerpa dirinya? Artinya,jika memang tidak bersalah, kenapa tidak melakukan pembuktian terbalik?
Sekiranya penulis adalah satu orang dari kaum yang gencar menuduh semata, maka penulis layak mendapat kata-kata: “Sekiranya saya bersalah, buktikan.” Tapi, jika penulis adalah bagian dari khalayak yang merasa gamang dengan kondisi yang ada, dengan itikad untuk belajar untuk lebih melek politik, ditambah mulai berkecambahnya kesadaran bahwa satu suara dalam pemilihan tak sekadar angka statistik belaka, ketika bertanya tantang dugaan korupsi tersebut, apakah juga akan mendapat ucapan yang sama? Semoga saja jawabannya tidak. Karena jika jawabannya iya, jelas akan sangat mengecewkan. Sebab, secara tersirat ada kemungkinan jawaban itu dapat ditafsirkan sebagai pembenaran isu korupsi. Bisa pula ditafsirkan sebagai sikap memberikan kesempatan untuk difitnah. Memberikan kesempatan untuk difitnah sama artinya memberikan kesempatan untuk dianiaya. Lantas, apa yang bisa diharapkan dari pemimpin yang tak berdaya melawan aniaya atas dirinya?
Semoga tak terlambat bagi kita untuk mengucapkan: “ Wahai para kandidat Cagub Kalbar, jika ada di antara saudara yang dituduh korupsi, jika saudara benar-benar tidak bersalah, buktikan!”

Pontianak, 25 Pebruari 2007

KUDA NIL DI SUNGAI KAPUAS

Menyambut seminar pendidikan: Guru Vs Pergaulan Bebas Remaja
Oleh: Amrin, Spd.

Sungguh menyentuh dialog antara Fachri dan Maria tentang jodoh, dalam Ayat-Ayat Cinta, baik versi novel maupun filmnya. Mereka membandingkan jodoh antara pasangan umat manusia dengan jodoh antara kejayaan peradaban Mesir dan Sungai Nil. Namun tulisan ini tidak membahas aspek sastra maupun filmis, pun bukan pada masalah jodoh cinta manusia, melainkan terinspirasi oleh perkara "jodoh" Mesir dan Sungai Nil. Perkara ini membawa pemikiran penulis pada perbandingan yang lebih membumi, apakah Kalimantan Barat umumnya dan Pontianak khususnya "berjodoh" dengan sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia?

Baiklah, kita dapat membuat kesepakatan awal bahwa antara Mesir-Sungai Nil dan Kalbar, Pontianak-Sungai Kapuas tidak dapat diperbandingkan begitu saja. Sebab dari segi kesejarahan saja, menganga jurang perbedaan. Mesir telah dimulai jauh sebelum noktah nol Masehi dibuat orang-orang Romawi. Orang-orang kuat Mesir pada jaman dahulu kala, telah berjuang mempersatukan anak-anak bangsanya yang terserak untuk kemudian menjadikannya sebagai imperium besar, yang pernah menjadi pusat dominasi kebudayaan pada masanya. Pada saat bersamaan, maksudnya dalam skala waktu geologi yang sama, apa yang terjadi di tanah kita ini? Ketika orang-orang di sana sudah merampungkan banyak piramida dan melebarkan sayap kekuasaan, apa yang dilakukan oleh datuk nenek moyang kita?

Secara teoritis kita tidak punya banyak literatur untuk mengungkap kejatidirian asal muasal. Paling-paling kita punya tinjauan antropologi umum yang salah satunya menyatakan bahwa nenek moyang kita berasal dari sekitar selatan benua Asia. Kedatangan ini terjadi dalam dua periode. Orang-orang yang datang pada periode pertama, mendiami pesisir. Ketika orang-orang pada periode kedua datang, orang-orang periode pertama menyingkir ke pedalaman.

Dari segi empiris, kita pun tidak memiliki banyak jejak-jejak sejarah. Maaf, penulis perbaiki kalimatnya: kita hanya memiliki sedikit jejak-jejak sejarah yang disebabkan sedikitnya upaya untuk menggalinya. Apakah ini disebabkan minimnya apresiasi masyarakat kita terhadap sejarah sendiri? Jika iya, kenapa sedemikian kontradiktif dengan kenyataan primordial dalam masyarakat kita? Misalnya pencantuman nama yang menisbatkan pada orang atau keluarga tertentu yang memiliki pengaruh kuat di masa lalu. Demikian pula dengan eklusivitas etnik yang kerap dijadikan komoditas politikus picik, serta masih banyak contoh lain termasuk penegasan terhadap hak-hak ulayat yang ber-efek pada kengerian investor menanamkan sahamnya di sini.

Padahal berbekal adagium terkenal dalam dunia arkeologi, antropologi, sejarah dan cabang-cabang keilmuan humaniora lainnya, yaitu: "Apa yang tidak kita ketahui, bukan berarti tidak ada", kita akan memiliki spirit dan perspektif yang progresif, yaitu tidak hanya berpangku tangan melihat fenomena yang ada, melainkan berjuang untuk menyikapinya. Dengan fenomena yang ada kita dapat melihat berbagai elemen telah bergerak. Misalnya dibukanya progam studi sejarah di STKIP PGRI Pontianak. Harapan kita, semoga saja alumni-alumninya nanti tidak semata bertugas selaku pendidik dan pengajar yang menanamkan kesadaran terhadap sejarah, melainkan terlibat aktif dalam proses kesejarahan. Demikian pula penyikapan yang dilakukan oleh dua orang luar biasa berikut ini, yaitu Syafaruddin Usman dan Turiman. Jika Syafaruddin Usman terus bergerak meneliti dan membuat buku-buku bertemakan sejarah, maka Turiman telah sedemikian gigih berjuang menyingkap kebenaran sejarah tentang peran salah seorang putra terbaik Kalbar, Sultan Hamid II, yang merancang lambang NKRI.Bagaimana dengan kita sendiri? Termasuk tipe penonton fenomena dan korban sejarah, ataukah tergolong orang-orang yang bergerak berjuang menyikapi dan berani aktif dalam sejarah?

Ada fenomena lain dalam masyarakat kita yang perlu penyikapan tegas. Fenomena ini berkait erat, bahkan lengket dengan sejarah. Seperti yang kita ketahui bersama, garis halus pembatas sejarah dan prasejarah adalah pencapaian tertinggi umat manusia, yaitu tulisan. Baiklah lagi, karena untuk sementara kita bersepakat lagi: dalam kenyataannya, kita adalah masyarakat yang tidak memiliki aksara sendiri. Dikatakan sementara karena tokh belum ada penelitian ilmiah mengenai hal ini. Semoga saja anak-anak cerdas kita nanti "terangsang" untuk menelitinya. Jika terbukti ada, kita patut bersyukur. Jika pun tidak, tetap patut disyukuri, karena mereka jauh lebih baik dari kita sebab mau berjuang menyingkap kebenaran. Siapa tahu, setelah provinsi ini kehilangan generasi emasnya dalam peristiwa Mandor, suatu hari kelak, akan muncul generasi-generasi emas yang di antara pencapaian terbaiknya mampu menyusun aksara baru, serta sistem kebahasaan yang baru pula.

Terlepas dari harapan-harapan tersebut di atas, kenyataan bahwa kita tidak diwariskan sistem aksara sendiri, bukan merupakan sebab mendasar bahwa kita tidak bisa mengembangkan kemampuan dasar manusia untuk maju, yaitu membaca, menulis dan berdiskusi. Tiga serangkai inilah senjata utama menelaah dan menyikapi keadaan. Kita layak bersyukur, dalam beberapa dekade terakhir tersirat kegelisahan atas minimnya minat baca tulis yang mewabah ke segenap sendi masyarakat. Masalahnya, kegelisahan ini hanya menjadi topik pembicaraan perintang hari. Siapa yang berani tampil ke depan menyikapi kegelisahan ini dengan tindakan nyata?

Fenomena lainnya adalah kegalauan atas pergaulan remaja kita. Konon ini pengaruh globalisasi yang mencerabut generasi muda dari akar budaya sendiri. Konon ini akibat multikrisis yang melanda negeri, terutama krisis pendidikan. Krisis pendidikan, karena para pendidik terpaksa meringkuk dalam pasungan kurikulum nasional. Akibatnya peserta didik terabaikan dalam pembinaan moral dan kepribadian. Sedangkan di sisi lain, peserta didik dituntut mampu berprestasi, dibebankan bermacam tugas yang entah berguna atau tidak dalam kehidupan sehari-hari maupun masa depannya, serta wajib "menjadi orang" setelah selesai studi, misalnya harus meraih cita-cita tertinggi pribumi, yaitu menjadi pegawai negeri. Idem dito dengan fenomena baca, tulis dan diskusi, fenomena pergaulan bebas remaja hanya sekadar "bisik-bisik tetangga" tanpa ada penyikapan nyata.

Di tengah kenyataan yang sedemikian memiriskan hati, muncul banyak harapan. Terutama harapan-harapan baik yang merupakan akibat sepak terjang kaum muda kita yang tak mau berdiam diri. Berkenaan dengan sejarah dalam kaitannya dengan penyikapan terhadap fenomena menumbuhkan minat baca, tulis dan diskusi, serta fenomena pergaulan bebas remaja, maka penulis angkat topi terhadap terbitnya buku Pontianak ‘teenager’ Under Cover, karya penulis muda Kalimantan Barat, Pay Jarot Sujarwo. Angkat topi pula atas kerjasama BEM STAIN Pontianak, Pijar Publishing dan Kitara Creativision yang akan menggelar Seminar Pendidikan: Guru Vs Pergaulan Bebas Remaja, yang akan digelar di Aula STAIN Pontianak, pada hari Rabu (12 Maret 2008) pukul 13.30 s/d 15.30 WIB. Berdasarkan informasi yang penulis peroleh dari panitia, narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Dr. Bumbunan Sitorus (Motivator, Dokter RSJ Kalbar), Pay Jarot Sujarwo (Penulis buku Pontianak Teenager Undercover) dan Yuni Djuachiriaty, S. Psi, M, Si (Psikolog).

Penulis mencoba menduga, apakah kegiatan seminar ini akan menarik perhatian guru-guru, terutama guru-guru di kota Pontianak dan sekitarnya? Pertama, jika iya, apa sajakah hasil seminar itu selain pesertanya memperoleh serifikat? Apakah ada yang berubah dengan pola interaksi guru-siswa-keluarga-masyarakat dan pemerintah? Apakah akan ada yang berubah dengan pergaulan remaja Pontianak? Apakah juga akan muncul hujanan tulisan dari kaum guru di media massa Kalimantan Barat? Apakah peserta didik akan termotivasi untuk memaksimalkan upaya pengembangan diri? Apakah dari sekian banyak siswa akan muncul sejarawan tingkat dunia? Apakah, apakah dan masih banyak apakah lainnya lagi. Namun yang jelas, harapan-harapan baik layak muncul dari sebuah kegiatan bersejarah.

Kedua, jika ternyata kegiatan ini kurang menarik minat kaum guru, maka bisa jadi Sungai Kapuas dengan Kalimantan umumnya dan kota Pontianak khususnya, memang tidak "berjodoh".

Sekiranya memang kemungkinan kedua yang terjadi, serta jika tanpa sungai Nil tidak akan ada Mesir yang berperadaban tinggi, maka sepertinya ada saran menarik agar masyarakat, provinsi dan negeri ini bisa maju dengan cara mudah. Caranya, kita mengupayakan impor kuda nil untuk dipelihara atau dibiarkan hidup bebas di sungai Kapuas. Apakah ada yang setuju? Jika ada yang setuju, pasti kuda nil.

Pontianak, 09 Maret 2008
Penulis adalah alumni STKIP-PGRI Pontianak.
Telah dipublikasikan di Borneo Tribune, 11 Maret 2008

12/10/08

TANDA

Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah

Bo menahan napas. Perlahan tangannya menjangkau rok Un. Sedikit gemetar. Meski demikian, ia mencoba tersenyum. Kemudian dengan saksama menatap mata Un, seolah algojo yang sedang menantikan sang terpidana mati telah menunaikan permintaan terakhir.

Atau justru dirinyalah yang sekarang pesakitan? Entahlah. Namun, sepasang mata indah yang balas menatapnya mengerdip yakin. Baiklah, Bo membatin. Aku harus melakukannya. Akan. Harus.Ya, harus. Aku harus melakukannya. Bo terpejam sesaat.Mengatur napas.Lalu,tangannya mulai bergerak menyingkap rok Un ke atas. Sedikit demi sedikit.
***
”Berdasarkan terawangan Datuk Kelabu,”kata Pak Uteh sambil mengisap kreteknya dalam-dalam, ”Orang yang tepat untuk membuang tanda itu adalah engkau, Nak Bo.” Untung gelas kopi Bo baru menyentuh ujung bibir.

Sekian detik saja terlambat, bukan mustahil, ucapan Pak Uteh itu dapat membuatnya tersedak. Membayangkan hal tersebut, ia menelan ludah.Sekian jenak berikutnya,barulah ia menyeruput kopinya pelan-pelan.
”Harus saya, Pak Uteh? Kenapa?” tanya Bo hati-hati, sembari meletakkan gelas kopinya ke meja. Diam-diam ia mencermati ekspresi Pak Uteh. Lelaki tua itu,yang sudah dianggapnya sebagai orangtua sendiri semenjak ayahnya meninggal ketika masih SD, tampak menarik napas seraya mengatupkan rahang kuat-kuat. Keriput di wajahnya menjelas. Bergetar-getar.

Matanya menyipit. Seakan punggungnya menanggung gunung-gunung. Tiba-tiba Bo merasa tidak enak dengan pertanyaan barusan. Beberapa menit yang lalu, setelah bermain catur, mereka masih berbincang lepas. Tentang kondisi terkini ibu kota kabupaten mereka, yang terletak di perhuluan sungai Kapuas dan sekarang dijamuri pembangunan ruko-ruko dan swalayan baru.Tentang kepulangannya kemarin, di mana ia sempat membawa kardus orang sampai ke rumah. Juga tentang rencana wisudanya bulan depan. Sekaligus juga membicarakan dengan penuh semangat tawaran Pak Mukti, agar ia nanti bekerja sebagai guru honorer di sebuah SMA swasta.

Namun, topik pembicaraan berubah, semenjak Bo bertanya tentang kakek tua yang siang tadi dilihatnya berjalan bersama Pak Uteh. Datuk Kelabu, demikian nama kakek itu, sengaja Pak Uteh undang untuk melihat kondisi dan mengobati Un. Awalnya Pak Uteh agak berat menjawab ketika ia bertanya tentang sakit apa yang sedang Un derita. Karena di matanya,Un sehat-sehat saja.Bukankah kemarin Un menyambutnya di muara gang dengan histeris? Bahkan mengambil paksa kardus yang sedang dijinjingnya, yang kemudian diketahui ternyata milik orang lain.

Satu-satunya penyakit Un yang ia ketahui adalah sering mencubitinya tanpa alasan.Tapi,sekalipun cubitan-cubitan itu berbisa, sungguh, ia tak ingin ”penyakit” itu disembuhkan. Mungkin karena samasama anak tunggal, selalu bersama sejak kecil, sehingga cubitan-cubitan itu telah menjadi semacam lambang persaudaraan antara mereka berdua. Lalu, Pak Uteh bercerita mengenai kunjungan Pak Usman seminggu yang lewat.

Pak Uteh meyakini, maksud kedatangan calon besannya itu tak lain tak bukan adalah untuk membicarakan lebih lanjut perihal pertunangan anak mereka. Pak Uteh sendiri sudah menyiapkan beberapa pilihan ”hari baik bulan baik” berdasarkan perhitungannya bersama orang-orang tua di kampung. Tak dinyana, Pak Usman justru datang membicarakan baik-baik mengenai pembatalan pertunangan! Menurut Pak Usman, hal demikianlah yang terbaik untuk masa depan masing-masing anak mereka. Bukan lantaran karena ketidakcocokan karakter antara Un dan Febrian.

Juga bukan disebabkan latar belakang ekonomi keluarga. Namun, karena Un memiliki sebuah tanda di tubuhnya. Tanda itu berupa tahi lalat sebesar ibu jari, terletak pada bagian tertentu di tubuh Un, menurut keyakinan keluarga Pak Usman dapat membawa sial bagi masa depan Febrian.
”Apa Nak Bo keberatan?” tanya Pak Uteh tiba-tiba, membuyarkan lamunan Bo.
”Bu….Bukan, Pak Uteh. Bukan begitu. Saya hanya ingin tahu.Kenapa Datuk Kelabu memilih saya?”
”Tidak sembarang orang dapat membuang tanda itu, Nak Bo,” kata Pak Uteh seraya mengambil sebatang kretek lagi dan menyulutnya.”Bahkan,orang pintar sekelas Datuk Kelabu pun tidak. Beliau hanya bisa melihat siapa orang yang berjodoh dengan jarum emasnya, alat khusus pembuang tanda celaka itu.

”Tadi siang,”lanjut Pak Uteh,”Setelah melihatmu, Datuk Kelabu mengatakan pada Bapak bahwa Nak Bo berjodoh dengan jarum emasnya.Untuk memastikan, Datuk Kelabu mengajak Bapak mengunjungi kuburan leluhurnya di luar kota. Padahal tujuan kami semula, Nak Bo, adalah menjemput cucunya yang menurut Datuk Kelabu pun berjodoh dengan jarum emas miliknya. Namun setelah mendapat petunjuk saat bersemedi di kuburan, Datuk Kelabu menegaskan bahwa untuk kasus Un, Nak Bo jauh lebih tepat dibanding cucunya.”
Bo melongo.
”Bapak mengerti,”kata Pak Uteh lagi, ”hal seperti ini bukan perkara yang bisa diterima begitu saja dengan nalar.Apalagi bagi Nak Bo yang anak kuliahan.”
”Jadi?”tanya Nak Bo sekenanya.
”Terserah pada Nak Bo. Bapak tidak memaksa. Kalaupun Nak Bo tidak bersedia, tidak apa-apa,” ujar Pak Uteh menyandarkan punggungnya dan menerawang pada langit-langit ruang tamu, ”mungkin memang demikian garis Un, adikmu itu.”
”Lalu ... cucu Datuk Kelabu?”
”Kata Datuk Kelabu, cucu perempuannya baru berjodoh dengan jarum emas itu jika tanda sial itu ada di tubuh laki-laki.” Bo tercenung. Teringat akan segala kebaikan Pak Uteh sekeluarga selama ini....
”Saya bersedia,Pak Uteh.”
”Engkau yakin, Nak Bo”
”Yakin,Pak Uteh.”
***
Bo terpejam sesaat. Mengatur napas. Lalu, tangannya mulai bergerak menyingkap ujung rok Un ke atas. Sedikit demi sedikit. Sedikit demi sedikit pula matanya terbuka, yang kemudian terpacak pada panorama yang terhampar.

Jantungnya berdegup kencang. Jakunnya naik-turun. Berkali-kali ia menelan ludah. Sebuah peta putih dengan jalurjalur hijau urat darah yang menuntunnya ke sebuah masa, lebih dari sepuluh tahun lalu. Ketika itu, untuk pertama kalinya, mereka saling belajar tentang apa perbedaan laki-laki dan perempuan. Aroma setanggi memenuhi ruang. Peluh mulai lahir dari pori-pori kulit Bo. Sementara itu,Pak Uteh,Mak Uteh,dan Emak Bo yang duduk di salah satu sudut ruang tampak gelisah.

Dari tadi sesekali mereka saling pandang.Kadang melihat Un dan Bo di dipan,kadang pula melihat Datuk Kelabu yang takzim bersimpuh di depan sebuah kotak kecil merah berisi jarum emas. Datuk Kelabu bangkit tiba-tiba,kemudian duduk di belakang Bo.Sambil komat-kamit, dua telapak tangannya menempel pada punggung Bo. Setelah sesaat berlaku demikian, Datuk Kelabu menarik tangannya. Kemudian, membisikkan sesuatu di telinga Bo. Bo mengangguk-angguk. Setelah meletakkan kotak jarum emas di samping Bo, Datuk Kelabu mendekati Pak Uteh, Mak Uteh,dan Emak Bo. Pada ketiga orangtua itu, Datuk Kelabu menjelaskan bahwa Bo bertarung akan kekuatan tanda sial di tubuh Un. Agar tidak mengganggu Bo, Datuk Kelabu mengajak mereka meninggalkan kamar.
”Kenapa, Bang? Kok, ragu-ragu? ” tanya Un setelah memastikan pintu kamarnya tertutup rapat.
”Kok seperti dulu, ya? Dan, di kamar ini lagi,” ujar Bo dengan tatapan mengitari ruang.
Ketika Bo hendak mengembalikan ujung rok ke tempat semula,Un malah mencegah.
”Buanglah tanda ini, Bang,” kata Un seraya membimbing tangan Bo menyingkap roknya, sampai kurang lebih sejengkal dari pangkal paha.Jidat Bo bekernyit saat melihat sebuah tahi lalat yang ternyata tidak sebesar jempol jari, tapi cuma seukuran dua kepala korek api. Un mengambil jarum emas dan menyerahkan pada Bo. Bo menyambut ragu.
”Un,Abang akan menusuk tahi lalatmu tiga kali, sesuai pesan Datuk, tapi Abang penasaran Un. Seingat Abang, dulu, tahi lalat ini tidak ada,kan?”
”Sebenarnya ada, Bang. Cuma kecil. Sejak kapannya,Un tidak tahu,tahi lalat ini mulai membesar sampai seukuran sekarang.Yang Un tahu, kira-kira sejak tiga tahun lalu, ukurannya tidak berubah lagi.”
”Katanya seukuran ini?”tanya Bo mengacungkan jempol kirinya. Tapi Un menjawab dengan senyum asing. Bo menyipitkan mata.Tajam menatap mata Un.
”Mereka lelaki pengecut,” kata Un sembari menghindari tatapan Bo.
”Hanya karena Un ceritakan tanda ini, mereka kabur.” Dengan ibu jari kanan, Un mengelus tahi lalat di pahanya.Kemudian,bercerita tentang beberapa pria yang pernah dekat dengannya, termasuk si mantan tunangan. Mereka semua munafik, keluh Un. Mula-mula mereka bilang mau menerima Un apa adanya. Mereka juga dengan gagah mengatakan bahwa keperawanan bukanlah syarat utama dalam membina rumah tangga. Tapi sekian waktu, ketika Un mengatakan bahwa mungkin saja dirinya sudah tidak perawan, pelan-pelan mereka mundur. Lalu, persoalan tahi lalat pun dibesar-besarkan.
”Abang belum mengerti,” potong Bo, ”Apa Un memang sudah tidak...”
Un menggeleng dan tersenyum, ”Un hanya menguji mereka.Ternyata cinta mereka cuma seperti itu.”
”Nekat!” kata Bo tanpa sadar, “Bagaimana jika mereka menyebarkannya pada orang lain? Abang benar-benar tak habis pikir...”
”Iya sih.Terus terang Un sedikit menyesal, karena hal ini menyangkut citra Un. Tapi Un lebih bersyukur karena bisa jauh dari laki-laki picik seperti mereka. Selain itu,Un melakukannya karena Un sebenarnya sangat mencintai seseorang...”
”Siapa, Un? Boleh Abang tahu?”
”Orangnya baik dan sangat menyayangi Un?”
”Siapa sih, Un? Cerita, dong...”
”Malu,ahhh...”
”Cerita dong, Un. Dengan Abang sendiri kok malu ?”
”Itulah masalahnya,” desah Un, ”Orang itu hanya menganggap Un sebagai adik,” sambung Un tertunduk.
Hening sejenak.Bo merasa ada debar lain di dadanya. Debar yang selama ini mati-matian ia tahan, yang rapi ia sembunyikan ke dalam sebuah peti kedap suara jauh di relung hatinya. Sekarang, tutup peti itu telah terbuka.
”Un...” kata Bo bergetar.
Un mengangkat wajah.Mereka bertatapan.Tanpa berkata- kata,sekarang mereka saling tahu isi hati masing-masing.

Ada kekuatan aneh yang mendorong wajah mereka saling mendekat.Mendekat.Mendekat dan... ”Aouww…..!” Un menjerit, tapi cepat-cepat menutup mulutnya.Wajah Bo tersurut beberapa jengkal. Ternyata, jarum emas yang entah sejak kapan terlepas dari tangan Bo telah mengenai kaki Un.
Orang-orangtua, yang resah menunggu di ruang depan, ketika mendengar jeritan Un, bergegas masuk. Mereka merubung Bo dan Un. Meski sebelumnya, tidak satu pun dari keempat orang tua itu yang pernah melihat tanda sial Un, yang katanya sebesar jempol jari, yang jelas sekarang mereka telah melihat ukurannya hanya sebesar dua kepala korek api. Karena itu, mereka kemudian saling pandang dan tersenyum puas.
Mereka luput mengamati, sepasang tangan yang saling genggam.Erat.
***

Dimuat di Seputar Indonesia 09/02/2007
(http://www.sriti.com/story_view.php?key=2533)

IONA, KYRA, LEYNA, TOSKA

Oleh : Amrin Zuraidi Rawansyah

Iona, Kyra, Leyna, Toska...

Kabar kehilanganmu, pertama kali kudengar dari syair jangkrik

yang mengeja rapal daun rontal

(Kaki dingin... dan batuk kecil yang seketika lenyap dalam gelas. Ada

yang menncicit di luar. Lotengku penuh tanda tanya
)


Iona, Kyra, Leyna, Toska...

Maafkan aku, karena pernah, masih dan akan terus memperkosamu dalam mimpi.

Itulah sesungguhnya sebab, kenapa harus kutolak tidur yang singkat di meja

perundingan. Aku malas berdamai dengan ketidakbeningan mereka

Menyalahkan naluriku yang latah menuding, pada rekahan asing di dinding

tebing, menjorok hening di pojok tanjung genting...


(Hei...!!! Kau di dalam sana, kan?)

Pontianak Post, Minggu, 2 Oktober 2005
(http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Apresiasi&id=100034)

KASIH

Oleh : Amrin Zuraidi Rawansyah, 1997-2005

Kasih..

Kasih yang bagaimana yang kau damba?

Kasihku teramat sederhana untuk kau tafsirkan

Bisa sekecil atom, bisa melebihi semesta tanpa batas

-Atau terlalu rumit?-



Jelasnya kasihku bukanlah seonggok plastik

yang kebetulan diolah jadi bunga

-Seperti bunga di meja belajarmu-

Pontianak Post, Minggu, 25 September 2005
(http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Apresiasi&id=99436)

SAJAK LELATU

untuk Fimay
Oleh : Amrin Zuraidi Rawansyah, Maret 2002

Karena rinduku,

hanyalah sehimpun lelatu

yang gemar bepergian

ke cakrawala


Pontianak Post, Minggu, 25 September 2005 http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Apresiasi&id=99438

GERIMIS PATAH DINGIN

Oleh : Amrin Zuraidi Rawansyah, 2000-2005

Seperti yang sudah-sudah, malam ini tetap sama: gerimis patah-patah

Dan sepertinya...

inipun akan jadi malam serupa kesekian dalam hitungan sia-sia: hampa

Lantas, melenyap kemana cercah gelagat rahasia yang menerbit diri dalam

tafakur suntuk?

Pernah ia menghangat datang

'Kan datang lagikah?

Kukisarkan mata

dan coba patahkan dingin dengan segelas arak tua...

Kelam sekitar.

Riuh rendah menghajar.

(http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Apresiasi&id=99439)

Support

Join My Community at MyBloglog!