Aku simpul yang kadang gemetar pada sejumlah peristiwa.
25.08.13
04/01/15
PALEM TUNGGU SI CANTIK
Deretan palem yang memagari jalan, serupa kokoh phallus menuding langit. Pelepah-pelepahnya yang mekar ke segala arah, menjadi semacam semburan hasrat yang dibekukan tiba-tiba. Tiang-tiang telepon terpacak dalam jarak tertentu. Sebuah rambu kuning berisi gambar anak-anak berjalan. Sebuah truk ekspedisi, parkir dengan kelap-kelip lampu sein kanan.
Aku masih memikirkan kemarahanmu, Cantik.
Hutan yang menjadi latar pemandangan di depan sana, menggariskan kontur pepohonan. Hitam. Serupa garis pita tak beraturan yang dibentangkan untuk menjaga kanak-kanak dari mimpi buruk. Di balik pita hitam, langit masih menyala. Sisa-sisa kiriman cahaya matahari yang ambruk di ufuk barat, berikan sapuan kelabu, biru pucat dan jingga.
Aku takkan memulai komunikasi, Cantik. Kecuali kau meminta. Aku berusaha. Biarpun kuat hasrat bertukar salam dan sapa seperti biasa. Seperti yang aku bilang, aku bukan kucing.
Jam-jam seperti ini, kendaraan-kendaraan antar kota berparade. Lebih banyak adalah truk-truk ekspedisi, juga taksi-taksi yang berkejaran. Jalan Ahmad Yani di depan riuh. Sesekali terdengar klakson mengimbangi deru mesin.
Langit nun di sana, makin gelap. Lampu merkuri di parkiran warkop menyala. Namun cahayanya uzur. Laskar burung layang-layang berakrobat, mengingatkanku pada taburan kata-kata penyair plastis yang hanya pentingkan rima, bukan makna. Lalu, burung-burung itu hinggap pada bentangan kawat-kawat listrik. Siap rehat setelah berkelana seharian dari ladang ke ladang.
Masih marah kau, Cantik? Tahukah kau betapa kukangeni emotikon titik dua tutup kurungmu?
22.11.13
Catatan warkop: Palem Tunggu Si Cantik
SERANGAN "BEBELOVER"
"Wah, dari tadi asik be-be-em, Bang..."
"Maaf, sejak RIM pilih bikin pabrik di negara jiran, be-be-em sudah saya cemplungkan ke Kapuas untuk makanan seluang."
"Tapi wajar dong, Bang, mereka bikin di sana. Tempat kita infrastruktur payah."
"Tapi mereka menjadikan kita sekadar konsumen, kan?"
Aku kembali sibuk dengan layar gizzie. Menyimak macam-macam tautan menarik. Ada serangan balik hacker Indonesia atas penyadapan Aussie. Jilbab hitam yang menelanjangi Tempo, beserta sangkalan-sangkalan dari yang berbeda pendapat. Kasus Century diangkat lagi, mirip goreng kroket. Angkat, celup, angkat celup. Baca lagi inbox si cantik yang marah. Komentar-komentar terhadap penampilan timnas u-23. Berlayar lagi ke pertarungan Saut dan TUK.
"Hape Abang, kan, bisa donlot be-be-em? Pasanglah, Bang."
"Nda', ah. Terima kasih. Abang pake yang laen."
Lalu aku menyimak postingan Gerakan Seribu Rupiah untuk Jalan Sanggau. Anak-anak muda yang berani. Salute!
"Pin-nya, Bang."
"Pajoh Abang kasi pin a-te-em."
"Ah, sombong Abang nie."
"Ngape pula' Ab sombong?"
"Abang nda' mao' pake be-be-em."
Wah, baru tau aku. Tak pakai be-be-em adalah indikator kesombongan.
"Cume sikap ja', Jang-e. Enak ja' mereka jadikan kita bangsa konsumen. Sudah tau pengguna banyak di Indonesia, bikin pabrik di sebelah."
"Ngape cume be-be ja', Bang?"
"Maksod kau?"
"Abang kan pakai celane jin, hape korea, jam tangan jepang..."
Aku masih bolak-balik di sosmed. Inbox si cantik. Aku mengurut dada. Memahami perempuan. Wajar dia marah. Lalu balik lagi simak perjuangan anak-anak muda pemberani. Uang hasil donasi masyarakat sudah mereka belikan batu. Elemen lain tim mereka, siap-siap bikin acara hiburan penggalangan dana. Hebat. Rakyat berani bersikap. Mulai dari jalan. Bagaimana dengan sapras yang lain? Misalnya listrik yang sering byarpet. Ups. Cukup. Nanti aku dicap provokator.
"Bang. Abang catatlah pin aku. Siape tau nanti' Ab beli be-be. Ini, Bang: em-empat-de-empat-empat-en-te-u-lima."
Aku mendelik.
22.11.13
Percakapan di Simpang Adi: kena teror bebelover.
SECUIL SIANG DI PASAR KARTINI
"Kalau yang depan Pekong, ada yang politik ada yang bisnis."
Kami pun melewati deretan warkop yang dimaksud. Benar. Ramai.
"Singgah?"
"Kalau kau tahan, singgahlah."
Tapi tak kuarahkan si Biroe ke parkiran. Aku terus ke simpang jalan Kartini depan Pekong. Belok kiri. Melewati kios pangkas rambut Berdikari tempat almarhum ayahku dulu kerja setelah pensiun.
Belum sampai ke simpang depan Denpom, pada jalan yang membelah dua deret ruko, aku belokkan si Biroe ke kanan. Dulu, areal inilah yang disebut pasar senggol. Dikemudian hari, pasar senggol dipindahkan agak ke hulu pasar kartini. Beberapa blok terlewati, lalu belok kanan. Jalan lagi ke arah sungai. Beberapa meter kemudian, belok kanan lagi.
Aku membelokkan si biroe dan memarkirnya di depan sebuah warkop. Kami duduk di meja depan bagian kiri. Tak terlalu ramai. Pengunjung di dalam cuma mengisi dua meja. Aku pesan white coffee dan Blonk pesan kopi bubuk (tubruk).
"Sinipun sudah mulai jadi warkop bisnis," terang Blonk sambil mencermati sepuluh meja di dalam.
Kami bercakap soal masa kecil. Sambil bercakap aku menyimak sekeliling.
Posisi warkop ini membelakangi sungai Kapuas. Dalam novel "Naga Berkaca Mata dari Tembok Pasar" pernah kugambarkan bagian tepi sungai di pasar Kartini ini jika dilihat dari arah seberang. Serupa baris serdadu tiarap di pematang benteng parit, dengan ransel berat di punggung.
Nah, di depan warkop, terpisahkan oleh jalan Kartini, nampak kesibukan pekerja. Blok ruko yang terbakar awal bulan tahun, sedang dibangun kembali. Tiga lantai. Tiang-tiangnya beton kokoh.
Perancah-perancah kayu terpasang sedemikian rupa. Dari arahku duduk, nampak tiga perancah yang khusus dibikin sebagai lift untuk rupa-rupa material. Bentuknya segi empat, mirip tower. Lalu ada sebuah tali kawat dari atas. Tali kawat itu bersimpul pada empat utas tali yang mengikat tiap sudut sebuah lantai papan. Seorang pekerja menaruh gerobak sorong berisi adukan semen. Papan itu terangkat pelan. Sedangkan "tower lift" yang lain, papan pengangkut melesat ke bawah tanpa muatan.
Tampak pula dua buah bangunan non permanen untuk pekerja. Dari bagian atas dinding papan, terlihat beberapa pakaian dijemur. Di dekat masing-masing bangunan pekerja itu, ada sebuah mesin molen. Agak terhapus, tapi masih terbaca olehku tulisan HERCULES pada mesin-mesin itu.
Di sekitar mesin Hercules, ada gundukan batu dan pasir. Tampak pula beberapa pekerja mengisi gerobak sorong dengan pasir. Ada yang membawa ke bagian dalam untuk menimbun ruangan, ada pula yang membawa ke mesin-mesin molen. Mesin diesel menderu. Knalpotnya hembuskan asap hitam tipis. Molen berputar. Seorang pekerja tua, fasih memainkan jantera. Mula-mula molen merunduk. Pekerja lain mengisi dengan pasir, semen dan air. Pekerja tua memutar jantera. Molen mendongak berputar.
Sebuah mobil boks, enam mobil SUV terparkir menyempitkan jalan. Beberapa kali, terjadi kemacetan kecil.
"Kalau mereka tak lihai, cabut sim-nya."
Tapi ujaran Blonk itu tak memudarkan kecemasanku. Aku ke perkiran, mendorong si biroe sedikit ke depan. Ban depannya menyundul anak tangga semen warkop.
Ponselku bergetar. Emoh yang rupawan kirim sandek. Blonk bilang, ajak saja ke sini. Kubalas sandek Emoh.
Kami lanjut bicara soal masa depan. Aku mengenang kehebohan di sosial media saat blok ruko di depan terbakar. Tak. Aku tak memvonis apapun penyebab kebaran itu. Tapi, melihat ruko itu dibangun kembali, darahku berdesir. Mengingatkan pula pada kredo Putu Wijaya dalam berkarya. Teror mentalnya adalah merontokkan segala sendi yang ada untuk kemudian menata pembangunan kembali. Bagaimana denganku? Apakah aku harus "membakar diri" untuk sebuah perubahan menuju kebaikan?
Orang-orang dan kendaraan berlalu-lalang. Aku menyimak.
21.11.13
Catatan perjalanan: Secuil siang di Pasar Kartini.
JALAN
JALAN
Kompleks, katamu. Aku setuju, Cantik. Seratus persen. Ada lapis-lapis skenario sesuai kepentingan pengambil kebijakan. Saat kita bertemu dengan lapis yang kita pikir paling inti, bisa jadi masih ada lagi lapis berikut yang sesungguhnya substansi.
Dinihari ini, Cantik, kita sepakati banyak hal. Mulai dari kamar-kamar konflik, hingga tinjauan keseluruhan arsitektur rumah masalah.
"Mereka ambil satu-persatu Putra terbaik kita, persis Peristiwa Mandor."
Kau dengar, Cantik, saudara-saudara kita bicara? Lalu, ingatkah kau akan Percakapan Erasmus yang kita kunyah malam demi malam bertahun-tahun lalu?
"Mereka tempiaskan huru-hara di sentral kekuasan ke tepi peta negara. Noktah-noktah yang kerap dilupakan, kecuali saat harus bayar pajak dan jelang pemilihan."
"Pembiaran. Agar kita buas dan saling mangsa."
"Politik kuno menjaga batas lapar perut. Semasih ada yang bisa dimakan, rakyat lelap dalam buaian."
"Lalu babat tunas-tunas gulma di pematang nasionalisme."
"Jadi menurut kalian, menumbangkan Sang Penjaga Gapura adalah kesalahan? Kalian pendukungnya? Kalau demikian, salahkan kami. Sebab, kami hanya menari atas tetabuhan yang mereka mainkan dari sana. Mereka pikir, cuma mereka yang bisa merekayasa? Kita juga bisa, Saudaraku."
Lalu, kabut embun yang turun di sepanjang jalan Ahmad Yani menularkan hening menikam.
"Kupikir, itu cuma salah satu riak. Sedangkan riak-riak lain pun berkejaran ke sepenjuru pesisir."
"Karena ia berani menahan laju peluru tanpa suara."
"Benarkah? Sumbermu valid? Hoax itu. Bukankah beberapa tahun lalu ia menerima penghargaan atas prestasinya membina para serdadu tanpa peluru?"
"Sudah kubilang. Rumit."
"Tak juga. Ini cuma potensi konflik yang terus dipelihara negara. Ingat. Rumusan integrasi adalah merawat disintegrasi. Itu yang terjadi sekarang."
"Semoga mereka tak ditunggangi."
"Merekalah yang dibutuhkan negeri, setelah satu generasi emas jazirah ini dibantai mati."
"Aku salut. Kita sudah berkali-kali terdesak dan terus digeser ke tepi jurang. Mereka tahu batas tepat rasa sakit dan harga diri yang bisa dikompromi. Mereka menghunus gerakan."
"Tak seperti kita. Pengecut yang mencari celah jadi pahlawan."
"Hoi. Jaga mulutmu. Kita bukan calon legislator yang pamer senyum dan tatap mata yakin di baliho-baliho dan mobil ambulan."
Lalu kekehan beradu di udara. Berkelindan dengan percik imaji, asap rokok dan uap dari cangkir-cangkir kopi liberika.
Aih. Bukan malam yang dihabiskan percuma denganmu, Cantik. Paras dan otakmu yang seksi, hangatkan kelenjar dan hormon-hormon dalam kantong testis peradaban. Ini cuma soal imbangi tarian dan tetabuhan. Ini soal mengenali rasa sakit pedih. Ini soal reproduksi pengharapan humanis. Ini soal jangan sampai ditunggangi dan kemudian menjadi kanibal pada saudara sendiri.
"Ada yang keasikan menggoreng."
"Karena ada yang belum menyadari otak, otot dan organisasinya di remote dari sana."
Mari kita selesaikan malam, bukan pada puncak pengharapan. Biar ada masa rehat. Biar esok, udara pagi menjadi pijar yang menggerakkan piston ide dan karya nyata di ruang pembakaran.
"Kami pulang. Sudah malam."
"Hei? Bukankah sejak lebih sepuluh jam lalu dunia sudah malam?"
"Kami pulang. Kau tidurlah, Cantik. Kembalilah menjadi sarang."
20.11.13
Catatan Perjalanan: Jalan